Tampilkan postingan dengan label Fiksi Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi Islami. Tampilkan semua postingan

1 Mar 2012

FIKSI : PEDAGANG DAGING DAN PENJUAL SATE


Cerpen ini telah dipublikasikan di Tabloid Remaja BIAS – Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Provinsi DIY Edisi 4 Tahun XVII / 2012

PEDAGANG DAGING DAN PENJUAL SATE
-Nisya Rifiani-

“Beli daging ayamnya dua setengah kilo, Bu.” pesan Idjah pada Bu Martha.
“Wah, hari ini belinya banyakan ya, Idjah.” sambut Bu Martha sembari melayani pesanan Idjah.
“Iya, hari ini saya mau dagang mutar di kompleks perumahan di samping pom bensin.” kata Idjah.
“Memangnya kenapa kalo’ dagang di sana. Laris ya?” tanya Bu Martha.
“Iya, kayaknya mereka suka sama sate ayam saya. Kalo dagang disana sering habis.” jawab Idjah.
“Oh gitu. Ini daging ayamnya dua setengah kilo. Semuanya lima puluh lima ribu rupiah.” kata Bu Martha sambil menyerahkan bungkusan kepada Idjah.
“Terimakasih. Ini uangnya, jumlahnya pas.” Idjah menyerahkan sejumlah uang kepada Bu Martha.
“Wah, saya juga terimakasih. Semoga dagangannya hari ini laris.” kata Bu Martha.
“Sama-sama. Saya pamit dulu ya, Bu.” kata Idjah sambil tersenyum.
“Iya.” jawab Bu Martha yang kemudian kembali sibuk melayani pembeli yang lain.

Idjah dan Bu Martha adalah dua orang dari sekian banyak orang yang beraktivitas di pasar itu. Idjah, perempuan muda itu setiap pagi selalu berbelanja ke pasar untuk membeli keperluan dagangannya. Setelah sebelumnya mempersiapkan kebutuhan anak satu-satunya yang duduk di bangku sekolah dasar berangkat ke sekolah. Sepulangnya berbelanja di pasar, Idjah lantas cepat-cepat mempersiapkan semua dagangannya. Karena siangnya, ia harus membantu membersihkan rumah milik orang yang menyewanya sebagai tukang bersih-bersih rumah. Sore harinya, itulah saatnya Idjah menjual dagangannya. Berkeliling menjajakan sate ayamnya dari rumah ke rumah…

Idjah bekerja untuk membantu keadaan ekonomi keluarga. Suami Idjah sendiri bukan orang yang berpenghasilan tinggi. Pasangannya itu bekerja di sebuah perusahaan swasta sebagai office boy. Walaupun hidup dalam keadaan pas-pasan dan harus bekerja keras, namun Idjah dan keluarga ‘kecil’nya itu menjalaninya dengan penuh keikhlasan dan senantiasa bersyukur pada Tuhan YME. Setiap ada masalah menerpa, mereka selalu menghadapinya dengan kesabaran dan usaha yang maksimal untuk dapat menyelesaikannya.

Lapak Bu Martha yang berada di depan kios pasar sudah menjadi langganan Idjah semenjak ia mulai berjualan sate ayam. Setiap pagi Bu Martha berjualan daging ayam disana, setiap pagi pula Idjah membeli daging ayam disana. Memang, selain Bu Martha masih banyak pedagang lain yang menjajakan dagangan serupa. Namun, Idjah sudah terlanjur menjadi pembeli tetap di lapak Bu Martha. Daging ayam yang dijual Bu Martha selalu segar, dan pelayanan yang diberikannya pun selalu ramah. Selain itu karena merasa sesama pedagang kecil, Idjah dan langganan lainnya kerap mendapat potongan harga dari Bu Martha. Meski jumlahnya tak seberapa.

Suatu hari, Idjah tak menemukan lapak Bu Martha di tempat biasanya.
Kemana Bu Martha? Ah, mungkin tempat jualannya pindah… pikir Idjah.

“Bang, tau nggak. Lapak Bu Martha pindah kemana?” Idjah bertanya pada pedagang sayur yang biasanya bersebelahan lapak dengan Bu Martha.
“Oh… Bu Martha nggak pindah lapak kok, Non. Tadi anak sulungnya kemari mengabarkan kalo’ Bu Martha berhenti jualan untuk sementara karena sedang sakit…” jawab si penjual sayur.
“Oh begitu… Wah, saya harus beli daging ayam dimana dong, Bang?” tanya Idjah setengah bercanda.
“Nggak usah bingung gitu, Non. Di sebelah sana kan banyak yang jual dagang daging ayam juga. Non cari-cari aja yang cocok…” kata si penjual sayur sambil menunjuk tempat yang ia maksudkan.

Akhirnya Idjah memutuskan untuk berbelanja daging ayam di lapak Bu Mirah yang berjualan tak jauh dari lapak Bu Martha.

Daripada hari ini nggak jualan… pikir Idjah.

#

“Idjah… nggak belanja daging?” sapa Bu Martha ketika Idjah melewati lapak dagangannya begitu saja.
“Oh, Bu Martha. Sudah sembuh sakitnya?” tanya Idjah.
“Iya. Alhamdulillah sudah agak baikan. Ayo, kamu mau belanja berapa kilo?” tanya Bu Martha.
“Maaf Bu, saya tadi sudah belanja daging di lapak Bu Mirah.” kata Idjah dengan sopan.
“Lhoh, kamu nggak belanja di tempat saya lagi?” tanya Bu Martha.
“Maunya sih gitu, Bu. Tapi kalo belanja di lapak Bu Mirah, sate saya nambah lima tusuk per kilonya.” kata Idjah.
“Ah, masa sih? Jumlahnya kan sama...” kata Bu Martha tidak memercayai kata-kata Idjah.
“Iya, Bu. Maaf Bu, saya harus cari bahan lainnya.” kata Idjah sembari berlalu mencari keperluannya yang lain.

Bu Martha sedikit kecewa karena dagangannya tak jadi dibeli oleh Idjah. Namun ternyata tak hanya Idjah, pelanggannya yang lain pun ternyata sudah keburu belanja daging di lapak yang lain.

Waduh, apa hari ini aku kesiangan ya… pikir Bu Martha.

Tetapi hari itu, dagangan Bu Martha tak selaris biasanya. Hingga siang menjelang, hanya ada dua atau tiga pembeli yang datang. Itu pun bukan pembeli yang biasa berlangganan di tempatnya. Sementara lapak Bu Martha terlihat sepi, sepuluh meter dari tempat itu sebuah lapak yang menjajakan dagangan serupa terlihat selalu ramai. Nampak pembeli datang silih berganti, hingga sang penjual kewalahan dan akhirnya semua dagangannya laku terjual. Ya, lapak itu milik Bu Mirah.

Kenapa lapak Bu Mirah jadi ramai seperti itu? Bu Martha berfikir keheranan.

Hari-hari berikutnya, makin sedikit saja orang yang berbelanja di lapak Bu Martha. Idjah juga tak pernah terlihat lagi mampir di lapak Bu Martha, demikian dengan pelanggan lainnya. Bu Martha merasa dihianati oleh pelanggan-pelanggannya. Ia kesal sekali.

Wah, kemana nih pelangganku? Padahal mereka kan tahu aku sudah jualan lagi… Bu Martha bertanya-tanya dalam hati.

Melihat ramainya lapak Bu Mirah, ada sedikit rasa iri di hati Bu Martha. Apalagi sudah seminggu lebih dagangannya tak laku.

Lapak Bu Mirah makin ramai aja sejak minggu lalu. Jangan-jangan selama aku nggak jualan, dia menghasut para pelangganku supaya nggak belanja lagi di tempatku, dan merebut semua pelangganku. Dasar pedagang curang…

Bu Martha mengomel dalam hati sembari menunggui barang dagangannya di siang yang terik itu. Tak ada satu pun pembeli yang datang hari itu. Sepanjang hari ia hanya duduk-duduk sembari melamun saja. Daging-dagingnya semakin siang pun semakin tidak menyenangkan rupa maupun kesegarannya. Ia pun terpaksa merugi.

Dalam lamunannya, tiba-tiba Bu Martha teringat sesuatu. Ia lantas merogoh sesuatu di balik timbangannya. Bu Martha melongo saja ketika ia mendapatkan sebuah kerikil seberat biji kelereng. Oh… rupanya kerikil itu yang membuat timbangannya menjadi berat. Sebuah kerikil yang bertahun lalu sengaja dipasangkannya, untuk memberatkan timbangannya, untuk mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri.

Tuduhan-tuduhannya pada Bu Mirah yang menghasut dan merebut semua pelanggannya ternyata tidak benar. Berpindahnya semua pelanggannya ke lapak orang lain ternyata memang akibat perbuatannya sendiri. Timbul rasa penyesalan di hati Bu Martha. Kalaulah sejak bertahun lalu ia berdagang dengan cara yang jujur, pastilah ia tak ditinggalkan oleh para pelanggannya dan mengalami kerugian seperti ini. Kepercayaan yang telah dipupuknya selama bertahun-tahun hilang begitu saja dalam waktu yang tidak lama. Perbuatannya dahulu baru ia rasakan dampaknya sekarang.

Bu Martha lantas membuang jauh-jauh kerikil tersebut ke jalanan. Berharap tidak lagi kembali padanya.

#

- Fiksi Islami ini ditulis oleh :: Nisya Rifiani / Februari 2012 -

------------------------------------------------------------------------------------------------

BIAS Edisi #3 Tahun 2012 Cerpen Pedagang Daging dan Penjual Sate

13 Feb 2012

FIKSI : SAYUR ASEM DAN SEPOTONG IKAN ASIN

-Nisya Rifiani-

Pukul enam pagi…
Raufik merapatkan mantelnya erat-erat. Mengenakan sepatu boot-nya satu-satu. Menjinjing tas ranselnya yang berat, kemudian ia memindahkannya ke bahu kanannya. Pagi itu ia sedang bersiap berangkat menuju ke kantor. Sebelum menutup pintu apartemennya, ia sempat melirik ke sebuah meja kayu minimalis di samping pantry mungilnya. Matanya terfokus pada sebuah kartu pos yang tergeletak diatasnya. Hatinya kembali berdebar.

Seminggu yang lalu, kartu pos bergambar lukisan rumah tradisional jawa itu tiba di apartemen Raufik. Rupanya dikirim oleh adik laki-lakinya dari tanah air. Tak banyak berita yang tertulis di atasnya. Hanya mengabarkan bahwa saat ini ibu sedang sakit keras, sekaligus memintanya pulang dalam waktu dekat. Adiknya pasti sudah bosan berkali-kali meminta hal sama kepada Raufik. Setelah beberapa kali telepon dan sms tidak pernah ditanggapinya, akhirnya hanya secarik kertas itu yang datang.

Raufik melenguh perlahan, mencoba menghilangkan rasa sesak yang bertumpuk di dada. Ia lalu menutup pintu apartemennya, dan segera menyusuri jalan-jalan kota menuju tempat bekerjanya. Raufik berjalan dengan cepat, sembari melawan udara yang terasa beku menggigit di musim dingin yang hebat itu. Medio januari tahun ini memang terasa lebih dingin dari tahun-tahun sebelumnya. Salju yang turun begitu lebat, menyelimuti seluruh kota, memutihkan segenap pemandangan, menjadikannya seperti kerajaan negeri dongeng.

Sudah hampir delapan tahun Raufik tinggal di kota itu. Tepatnya, saat ia menerima beasiswa sarjana strata satu-nya setamatnya dari sekolah menengah atas dulu. Tahun pertamanya di negeri orang ia habiskan untuk mempelajari bahasa dan kebudayaan negara itu. Tahun kedua, baru ia mengambil beasiswanya di jurusan teknik di sebuah universitas ternama di kota itu dan belajar dengan sungguh-sungguh. Empat tahun kemudian ia lulus dengan predikat cumlaude.

Raufik kembali mengajukan perpanjangan beasiswa untuk studi strata dua-nya di universitas yang sama. Permohonan beasiswanya diterima dan ia pun kembali ke kampus. Sembari kuliah, Raufik juga bekerja di sebuah perusahaan swasta sebagai junior engineer. Tidak menjadi masalah karena pihak perusahaan tempat ia bekerja mengizinkan karyawannya bekerja sambil kuliah. Peningkatan kinerja perusahaan menjadi alasannya. Memang, di negeri ini kemampuan seseorang di bidang yang spesifik dihargai dengan sangat tinggi.

Raufik sebenarnya tak punya waktu untuk pulang. Kesibukannya bekerja di sebuah perusahaan swasta di perfektur paling sibuk di negara tersebut membuat Raufik tenggelam dalam pekerjaannya. Memang kini ia sangat mencintai perkerjaannya, tapi ia juga banyak kehilangan waktu untuk dirinya sendiri. Waktu terasa cepat sekali berputar. Begitu sibuknya Raufik, bahkan ia tak sempat untuk mencari calon pendamping hidup. Padahal, pada usianya saai ini ia sudah pantas untuk memiliki seorang istri.

Sebenarnya ibu sangat berat melepaskan Raufik untuk menuntut ilmu di luar negeri, dulu. Apalagi menurut ibu negara tempat tujuan Raufik sangatlah jauh dari peradaban orang-orang muslim. Ibu meragukan kehidupan Raufik kelak ketika ia pindah nanti. Bagaimana Raufik dapat bertahan di tengah-tengah mereka?
Saat itu, Raufik bersikeras tetap mengambil beasiswanya meski harus hidup terpisah dengan keluarga. Raufik tidak terlalu menggubris kekhawatiran ibu, dan meyakinkan kepada ibu bahwa ia akan baik-baik saja di sana, nantinya. Pada akhirnya, memang benar kata ibu. Tidak mudah merantau di negeri yang asing. Pada awal kepindahannya, ia merasa sangat kesepian tanpa ibu dan saudara-saudara di dekatnya. Tetapi Raufik menepati janjinya pada ibu untuk selalu menjaga diri dengan tidak meninggalkan kewajiban lima waktunya. Bahkan Raufik mampu melakukan bersama dengan sunnah-nya sekaligus.

Ya, kini sudah hampir delapan tahun Raufik tak bertemu dengan ibu. Raufik tak menyadarinya, ternyata sudah selama itu. Tiba-tiba rasa rindu terhadap ibu bertumpuk begitu saja, memenuhi pikiran Raufik…

#

Bandara Internasional Narita…
Hari itu, meski salju turun tak setebal biasanya tetapi Raufik tetap merasakan hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang, membuatnya menggigil.

Raufik terburu-buru menyelesaikan semua urusan boarding‒pass-nya di bandara. Sesaat setelah berada di dalam pesawat, Raufik bernafas lega. Udara hangat dalam pesawat sedikit mencairkan rasa dingin dalam tubuhnya. Raufik pun menanggalkan coat yang dikenakannya, dan melonggarkan ikatan syal yang melilit di lehernya. Ia merebahkan tubuhnya pada kursi empuk layanan maskapai terbaik negeri matahari terbit itu. Raufik berharap bisa tidur sejenak seperti penumpang lainnya. Namun bayangan ibu terus mengikutinya. Ia semakin tak bisa menahan keinginannya untuk segera bertemu dengan ibunya.

Perjalanannya dari Tokyo ke tanah air tentu bukan jarak yang dekat. Ia harus bertahan dalam burung besi yang mengurungnya selama kurang lebih tujuh jam. Bagi Raufik waktu terasa bergerak amat lamban, membuatnya kembali mengingat ibu. Ibu sering sekali memasak sayur asem dan ikan asin kesukaan Raufik – dua atau tiga kali dalam seminggu. Raufik pun tak pernah absen menyantapnya pertama kali diantara saudara-saudaranya. Hmm… berapa ia sangat ingin merasakan kembali masakan ibu itu. Tetapi pasti dengan keadaan ibu sekarang yang sedang sakit dan cepat lelah, ia tidak bisa memasak untuknya.

Ibu tak pernah sekalipun lupa mengingatkan Raufik dan saudara-saudaranya untuk sholat, atau pergi mengaji ke surau. Ibu sendiri adalah orang yang taat dan tekun beribadah. Kewajiban lima waktu berikut sunnah-nya tak pernah terlewatkan. Setiap hari pun ibu selalu khusyuk tahajud di tengah malam. Ibu juga rajin mengaji dan menamatkan Al Quran berkali-kali. Ah… Raufik gelisah mengingat semua itu. Berkali-kali ia melirik arloji di pergelangan tangan kanannya, berharap bisa mendarat lebih cepat. Akhirnya hanya dengan berdzikir bisa membuat Raufik lebih tenang.

Rindu Raufik pada ibu tak tertahankan lagi. Ia ingin segera tiba di rumah.

#

Jogjakarta…
Kota itu tidak banyak berubah. Semuanya serupa ketika terakhir kali Raufik meninggalkannya. Kembali ke Jogjakarta seperti membawa Raufik kembali ke masa lalu. Kota itu telah membesarkan Raufik hingga ia menyelesaikan sekolah menengah atas-nya. Selama itu, tentu begitu banyak kenangan di dalamnya.

Raufik memejam, kembali teringat hari-hari bersama ibu. Ia semakin tak sabar untuk bertemu ibu. Namun ia masih harus bersabar sedikit lagi sebelum akhirnya bisa menemui ibunya di rumah.

Raufik mendorong pagar besi itu. Menyusuri taman-taman, tanaman di sana dipangkas rapi dan ditata dengan serasi. Pada akhirnya ia sampai pada bangunan utama, sebuah rumah dengan joglo kokoh sebagai berandanya.

“Assalamualaikum… Bu, Raufik datang.”  Raufik berlutut di samping tempat tidur ibunya. Diciumnya kening ibu, diraihnya tangannya lalu diusap-usapnya. Dipandangnya wajah ibunya yang sedang terlelap.

Paras ibu masih terlihat cantik, teduh, dan bijak. Meski usia senja telah menghampirinya, tapi ibu tak terlihat tua. Masih seperti dulu, hanya saja kini ibunya sedang berbaring lemah karena sakit.

Pelan-pelan ibu membuka matanya. Rupanya ibu telah terjaga.

“Raufik…” Ibu memanggil dengan lemah.
“Raufik pulang, Bu…” kata Raufik. Ibunya tersenyum. Tangannya mengulur membelai kepala Raufik yang sedang bersimpuh di dekat ranjang ibunya.

“Baru luang hari ini, nak?” tanya ibu. Raufik mengangguk.
“Maaf. Maafkan Raufik karena begitu lama meninggalkan ibu.” kata Raufik penuh penyesalan sembari mengecup tangan ibunya.

“Sudah. Kamu pasti lelah setelah menempuh perjalanan yang jauh. Tadi, ibu sudah memasak sayur asem dan ikan asin untuk kamu makan siang ini.” kata ibu.
“Maaf merepotkan ibu, padahal ibu sedang sakit.” kata Raufik bersedih. Ia tidak menyangka walaupun ibu sedang sakit ibu memaksakan diri memasak sayur dan lauk kesukaannya, meski harus dibantu oleh adik perempuannya.

Raufik semakin mendekat. Ia masih ingin berlama-lama di dekat ibunya. Dipeluknya tubuh ibunya untuk melepas rindu. Ibu mengusap rambut Raufik. Pipinya basah oleh air mata.

Rindu Raufik pada ibu yang lama tak dijumpainya telah terbayarkan oleh perjumpaan itu. Raufik akhirnya menyadari kekeliruannya selama ini.

Tuhan, terimakasih engkau telah memberikan waktu untuk bertemu ibuku sebelum aku menyesal karena tidak dapat menemuinya lagi… kata Raufik mengucap syukur.

#

Fiksi Islami ini ditulis oleh :: Nisya Rifiani / February 2012 ‒

15 Jan 2012

FIKSI : KETULUSAN HATI MADINA


KETULUSAN HATI MADINA
-Nisya Rifiani-

Kejadian yang mengerikan itu akhirnya tak terelakkan lagi. Kecelakaan lalu lintas, antara sebuah honda jazz yang tak sengaja menabrak sepeda motor butut tahun 70-an. Sang pengendara mobil nampaknya hanya pingsan saja di dalam mobilnya. Namun keadaan yang lebih parah menimpa pengendara motor yang tertabrak. Tubuh laki-laki itu terkulai lemah tak sadarkan diri. Dari kepalanya mengucur darah segar. Kaki kanannya bengkok, menandakan tulangnya tak terpasang lagi pada tempatnya. Orang-orang yang berada disekeliling tempat itu segera berdatangan, menciptakan kerumunan manusia. Ada yang menghampiri untuk menolong, sebagian lagi hanya ingin menonton.

Madina dan kedua temannya yang baru saja pulang dari berbelanja di mall turut menyaksikan kejadian tersebut secara langsung. Mereka tak lagi dapat menahan rasa ngeri dan ketakutan. Meski tak mengalami, namun secara psikologis terdapat trauma dalam diri ketiga gadis tersebut. Segera mereka pergi dari tempat kejadian itu. Pulang ke rumah masing-masing dan menenangkan diri.

#

“Hei, hei, tunggu… Kamu Annie kan?”

“Hei… bukankah kamu Kak Madina?”

Madina mencegat seorang gadis bernama Annie, ketika keluar ruang kuliah pada jam terakhirnya.

“Jangan panggil ‘kak’ dong! Aku sebenarnya satu angkatan denganmu, jadi lebih tua hanya karena orang tua-ku terlalu cepat satu tahun memasukkanku dalam usia sekolah.” kata Madina.

“Ahaha, iya. Ada apa, Madina?” tanya Annie.

Terseruak kembali dalam pikiran Madina. Matanya yang memejam mengingat kejadian kecelakaan yang ia saksikan tempo hari. Ditengah kericuhan itu, ketika semua apatis, ketika tak seorang pun peduli, seorang perempuan muda dengan hijab yang menutupi hampir seluruh tubuhnya dengan berani memulai mengajak penonton untuk menolong korban kecelakaan itu.

Orang-orang itu kemudian tergerak membantu perempuan itu untuk menjadi penolong. Pelan-pelan mengangkat tubuh korban ke pinggiran jalan – juga yang berada di dalam mobil. Sebagian mengamankan kendaraan yang telah rusak itu, sebagian lagi membantu mengatur lalu lintas yang tak sadar terlalu cepat menjadi padat.

Perempuan itu mengatakan ia sudah menelepon rumah sakit – dan benar tak lama terdengar bunyi sirine yang mendekat dan semakin mendekat. Petugas medis dengan hati-hati memindahkan korban ke dalam mobil ambulans putih itu. Perempuan itu pun tak segan membantu mereka. Tak memperdulikan kerudung krem-nya yang terkena noda darah. Turut memperjuangkan nyawa orang lain yang bahkan tak dikenalnya. Gadis tulus itu adalah Annie…

Bagaimana mungkin seseorang begitu peduli dengan orang lain???
Itulah yang membuat Madina begitu tertarik dengan Annie.

“Ah, nggak apa-apa.” kata Madina akhirnya. “Ada yang nggak kumengerti di mata kuliah ‘ini’. Aku rasa kamu cukup jago, sebenernya aku mau minta tolong untuk ajarin kamu. Gimana, bisa nggak?” tanya Madina lagi.

“Jago? Masa’ sih? Mendingan kita belajar bersama-sama saja.” kata Annie memberikan saran.

“Hmm, baiklah. Nggak apa-apa kok.” Madina menyetujui usul Annie.

“Oke. Kita bisa belajar di kos-ku, lain waktu di rumahmu. Tapi maaf Madina, sore ini aku harus mengajar TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) di masjid di dekat kos-ku.” kata Annie. Madina sedikit kecewa mendengarnya. Tetapi ia tidak memaksa Annie.

“Baiklah. Besok aja aku main ke kos-mu.” kata Madina.

“Ya. Sampai jumpa besok, Assalamualaikum.” sahut Annie.

Madina tak menjawab salam Annie, hanya memandang gadis berjilbab itu yang bergegas meninggalkan kampus.

Hari berikutnya, Madina menemui Annie di kampus seusai kuliah paginya. Kebetulan keduanya tidak ada jadwal kuliah lagi di siang harinya. Segera mereka menuju ke kos Annie untuk belajar bersama.
Benar saja, Annie memang jago dalam perhitungan kalkulus lanjutan. Annie ternyata juga mahir mengajar. Jadi Madina tak kesulitan menerima penjelasan Annie.

Madina semakin sering saja bermain ke kos Annie. Annie sesekali juga berkunjung ke rumah Madina. Rumah yang cukup besar itu hanya ditinggali oleh Madina seorang diri saja. Pembantu hanya datang pada pagi hari untuk membersihkan rumah, dan pulang di siang harinya. Ayah Madina rupanya seorang pengusaha di bidang properti. Ibunya berkerja di sebuah perusahaan swasta. Keduanya tinggal di Ibu Kota. Mencari nafkah, adalah alasan yang menjadikan keduanya tak bisa menemani Madina yang tengah menuntut ilmu di kota pelajar ini. Madina tak punya saudara kandung, jadi ia terbiasa melakukan semuanya sendiri.

Kasihan Madina, ia pasti sangat kesepian… kata Annie dalam lubuk hatinya.

Kedekatan Madina dengan Annie memang dilatar belakangi oleh suatu kepentingan. Namun semakin lama pertemanan mereka tumbuh menjadi sebuah persahabatan. Madina yang tadinya hanya sekedar ingin tahu pun akhirnya merasakan suatu pertemanan yang begitu indah. Annie pun sangat senang mempunyai sahabat Madina.

#

“Seingatku semenjak aku kecil, kedua orang tua-ku selalu sibuk bekerja. Dari pagi hingga malam, bahkan aku sendiri jarang bertemu mereka. Waktuku lebih banyak bersama pembantu, perawat, dan sopir. Aku juga di didik untuk mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari sekolah, tambahan pelajaran, dan berbagai les keterampilan. Soal agama, aku sama sekali tak diajarkan. Sejak dulu, aku tidak menyukai diriku. Selalu bingung takut dibenci oleh orang lain. Di kampus aku tidak bisa mengeluarkan pendapatku sendiri, akhirnya aku hanya bisa mengikuti teman-temanku saja. Dimana pun aku selalu sendirian.” suatu kali Madina mencurahkan isi hatinya kepada Annie.

“Kamu selalu terlihat ceria dan tegar di balik semua itu, Madina. Sekarang, ketika sudah dewasa carilah jati diri kita sendiri tanpa navigasi orang lain. Baiklah, sekarang katakan kepadaku. Belajar bersama itu tadinya cuma kamuflase, kan?” tanya Annie tanpa bermaksud menginterogasi.

“Benar. Sebenarnya, pada awalnya aku hanya tertarik dengan kepribadianmu – yang sangat aneh, menurutku. Ada apa dengan gadis ini, mengapa ia mau berbuat seperti itu, pada kecelakaan waktu itu. Ingat?”

“Ya, sesama muslim harus saling membantu, Madina. Waktu itu aku hanya berfikir, bagaimana cara menyelamatkan satu saudara kita.”

“Annie, aku agak malu untuk meminta bantuanmu. Tolong ajarkan kepadaku bagaimana caranya sholat dan membaca Al-Quran.” kata Madina. Annie terkejut sesaat dengan permintaan Madina yang tiba-tiba itu. Namun ia segera menyambutnya dengan respon yang positif.

“Alhamdulillah. Tentu, tentu saja Madina. Aku akan mengajarimu. Kewajiban seorang muslim untuk membantu saudaranya yang butuh pertolongan.” jawab Annie mantap, tanpa bermaksud menggurui.

“Terima kasih.” ucap Madina sembari tersenyum.

Annie mulai mengajari Madina gerakan-gerakan sholat, bacaan-bacaan sholat. Huruf-huruf Al-Quran, ayat-ayat Al-Quran. Annie meminjami buku-buku religi yang dimilikinya, dan mengajak Madina berdiskusi agama.

Madina bahkan kini mulai mengikuti kegiatan keagamaan, meski terbatas di lingkungan kampus dan di sekitar kos tempat Annie tinggal.

#

“Hei… mengapa kau memandangku seperti itu?” tanya Annie kepada Madina.

“Aku selalu berfikir, walaupun sekarang aku sudah bisa sholat dan mengaji namun ternyata masih ada yang membedakan kita.”

“Apa itu?”

“Pakaian kita.”

“Ada apa dengan pakaian kita?”

Madina menaikkan bahunya. Memandang pakaian ‘sipil’ nya yang memperlihatkan tangan ‒ kakinya, tanpa penutup kepala pula. Lalu membandingkannya dengan pakaian hijab milik Annie. Annie langsung mengerti apa maksud Madina.

“Iya, yang seperti engkau tahu. Ini adalah hijab ‒ jilbab. Jilbab adalah busana wanita muslim, dan memakai jilbab termasuk dalam hukum Islam yang tertera dalam Al-Quran suci dan merupakan sunnah Rasulullah SAW. Dasar hukum Al-Quran : QS. An-Nur 24 : 31* dan QS. Al-Ahzab 33: 59**. Sedangkan dasar hukum Hadist adalah sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Malik, Tarmidzi, Abu Dawud, Bukhori Muslim, dan masih ada yang lain.”

Pelan-pelan Annie menjelaskan kepada Madina. Madina semakin tertarik saja, pada Annie, pada ajaran agamanya. Melibatkan diri dalam kehidupan Annie tentu bukan kesalahan. Malahan, membuat Madina semakin menyadari betapa kurangnya pemahamannya terhadap agamanya sendiri. Kini selagi masih ada waktu baginya, kesempatan belajar mendalami agama tak pernah ia sia-siakan.

Annie begitu menginspirasi. Bagi Madina, Annie bukan hanya sekedar teman. Annie bahkan menjadi sahabat, saudara, dan guru terbaik yang dimiliki oleh Madina.

#

Tok! Tok!
Pintu kamar kos Annie diketuk seseorang.

“Assalamualaikum…” terdengar suara renyah perempuan, Madina rupanya.

“Wa’alaikumsalam…” Annie menjawab salam dan buru-buru membukakan pintu.
“Madina? Subhanallah… cantik sekali…” kata Annie.

Annie merasa sangat takjub melihat Madina. Madina bertamu ke kos Annie menggunakan baju hijab. Jilbab yang menutupi dada. Madina tersipu-sipu, tampak masih agak malu – canggung.

“Aku belajar untuk mengetahui hikmah menutup aurat. Mengenakan jilbab untuk kesenangan Allah SWT, daripada kesenangan syetan. Bukankah seperti ini kesenangan Allah? Inilah jati diri yang akhirnya kupilih, Annie.” kata Madina.

“Saudariku tersayang, apabila kau benar-benar jujur dan tulus dalam menjalani sesuatu dan berusaha, kau akan menemukan ribuan tangan kebaikan siap membantumu dan Allah SWT akan membuat segala permasalahan mudah untukmu.”

Kemudian senyum kedua gadis itu pun terkembang…

Sungguh, meski kecelakaan itu merupakan tragedi tetapi menjadi anugerah tersendiri bagi Madina.

Alhamdulillah… :)

#

Fiksi Islami ini ditulis oleh :: Nisya Rifiani / Januari 2012 –

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Referensi
Al-Quran & Hadist
Artikel : Jilbab, Busana Wanita Muslim – 10 Alasan Tidak Mau Pakai Jilbab / Pernikahan Islami

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

* “Katakanlah kepada wanita yang beriman, agar merekapun menundukkan dan memelihara anggota kemaluannya. Janganlah mereka memperagakan perhiasannya, kecuali perhiasan luar yang sudah biasa kelihatan saja. Dan hendaklah mereka menutupkan kerudung kepalanya sampai ke dadanya. Dan jangan pula mereka memperagakan kecantikannya kecuali kepada suaminya, atau ayahnya, atau ayah suaminya, atau putera-puteranya, atau putera-putera dari suaminya, atau saudara-saudaranya, atau putera-putera dari saudara laki-lakinya, atau putera-putera dari saudara perempuannya, atau wanita-wanita Islam, atau hamba-hamba sahaya mereka, atau pelayan-pelayan laki-lakinya yang bebas rasa berahi atau anak laki-laki yang belum mengerti apa-apa tentang aurat perempuan. Selanjutnya, janganlah mereka menghentakkan kakinya ke tanah untuk menarik perhatian orang dengan gemerincing bunyi gelang perhiasannya yang tersembunyi. Dan bertaubatlah kalian semuanya kepada Allah hai orang-orang yang beriman, semoga kalian beruntung.” (QS. An-Nur 24 : 31).

** “Hai Nabi! Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang-orang mukmin, supaya mereka menutup tubuhnya dengan kain jilbabnya ketika mereka keluar rumah. Dengan demikian mereka lebih mudah dikenal kesusilaannya, supaya tidak diganggu orang jalanan, dan Allah Maha Pengampun dan Penyayang.” (QS. Al-Ahzab 33: 59).

13 Jan 2012

FIKSI : SERATUS ORANG KURANG SATU

-Nisya Rifiani-

Alan tersadar secara tiba-tiba. Matanya membelalak lebar, dadanya menekan ke bawah, menahan napas yang sesak. Rasa sakit itu yang membuatnya terbangun. Diaturnya napasnya pelan-pelan, dan sesaat kemudian berangsur-angsur normal. Ia memerhatikan sekelilingnya, serba putih. Rupanya ia tengah berada disebuah ruang rawat di rumah sakit. Tak terlihat seorang pun yang menungguinya.

Ia lalu duduk di sisi ranjang tidurnya, memegangi kepalanya.
“Apa yang terjadi…?” gumamnya pada diri sendiri, sembari mengingat-ingat apa yang telah terjadi padanya.

“Oh, kecelakaan mobil itu…” kenangnya. Rupanya sebuah tabrakan mobil yang menyebabkan ia berada di rumah sakit itu sekarang. Mata Alan memejam, berusaha memutar kembali rekaman peristiwa dalam ingatannya.

Siang itu, pada batas waktu dzuhur…
Alan baru saja bangun dari tidurnya. Ia meraih ponselnya, satu short message service tertera di layar gadget-nya itu. Radit, mengajaknya hang out malam ini. Alan tersenyum saja dan segera membalas sms Radit. Ia menyetujui ajakan Radit, ia lalu bersiap-siap karena sebentar lagi Radit akan menjemputnya.

“Kamu udah sholat ashar belum, tadi kayaknya kamu juga nggak sholat dzuhur deh. Habis dari tadi kamu molor mulu.” ujar mama ketika Alan turun dari kamarnya di lantai 2.
“Nanti, ma. Alan sholat ashar-nya di jalan aja.” jawab Alan sekenanya.
“Nanti kamu juga jangan lupa sholat maghrib. Langsung lanjut isya’ sekalian, biar tenang dijalan.” kata mama lagi.
“Iya, ma. Nggak usah bawel deh.”
“Jangan bilang mama bawel deh.”
“Udah deh ma. Itu Radit udah jemput. Dah mama...” sahut Alan yang kemudian berlalu tanpa basa-basi. Mama hanya geleng-geleng kepala.

Mobil Radit menunggu di halaman rumah Alan. Ketika Alan mendekat, Radit menurunkan kaca mobilnya. Alan sedikit menunduk untuk melihat ke dalam. Terlihat Radit di bangku sopir, Bara disampingnya. Dibelakang, Yoga dan seorang gadis manis tengah melipatkan kakinya, memperlihatkan kedua pahanya yang mulus. Belakangan ia mengenalnya dengan nama Shinta.

“Mau kemana kita?” tanya Alan.
“Masuklah dulu.” kata Radit.
“Kita putar-putar dulu aja. Senang-senang dulu. Lihat, ada mainan baru.” kata Bara sambil mengangkat jempolnya, mengarah ke bangku belakang. Shinta, gadis yang dimaksud hanya tersenyum-senyum saja.
“Setelah puas, baru kita ke klub malam.” sambung Yoga.
“Oke.” Alan memasuki mobil dan mengambil tempat duduk di sebelah Shinta.

Sepanjang sore itu Alan dan teman-temannya menyusuri jalan-jalan pinggiran ibu kota. Kehadiran Shinta menambah semarak acara jalan-jalan mereka. Apalagi gadis itu tampak tak malu-malu lagi untuk memeluk, mengecup, mencium, mencumbu, bahkan bermesraan dengan Alan dan teman-temannya.
Menjelang malam, mereka memarkirkan mobil di sebuah klub malam terkenal, sebuah pilihan dari sekian banyak klub-klub malam yang ada di Jakarta. Memasuki tempat dugem itu, langsung saja mereka menikmati meriahnya pesta hedonisme. Menegak aneka minuman beralkohol. Menari hingga pagi menjelang.

Saat perjalanan pulang dini hari itu-lah, Radit yang tengah terpengaruh minuman keras tidak dapat mengendalikan mobil yang dibawanya hingga menabrak pembatas jalan raya dengan kerasnya. Mobil yang mereka tumpangi terguling-guling, dan terseret sejauh seratus dua puluh meter. Radit yang menjadi sopir, Bara yang ada di sampingnya, serta Alan, Shinta dan Yoga yang duduk di bangku belakang langsung tak sadarkan diri.

Setelah sedikit memaksakan otaknya bekerja lebih keras merangkai potongan-potongan memori itu, akhirnya Alan dapat mengingat seluruh kejadian yang menimpanya.

Alan bangkit dari ranjangnya. Tubuhnya terasa ringan. Aneh, padahal luka-luka di beberapa bagian tubuhnya seharusnya menimbulkan rasa yang luar biasa sakit. Alan menuju ke pintu, hendak keluar ruangan. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh seseorang – tidak ia kenal. Tubuh orang itu memancarkan cahaya putih kuning, silau.

“Siapa itu?” tanya Alan. Ia mengangkat tangannya ke atas, berusaha menghalangi cahaya yang menyorot tepat ke matanya.

Orang tadi berjalan mendekat. Sosoknya tegap. Pakaiannya longgar serba putih. Namun wajahnya tetap tak terlihat jelas karena banyaknya cahaya yang memancar dari tubuhnya.
“Lihatlah dirimu.”  kata ‘manusia cahaya’ itu.

Alan membalikkan badan, dan kembali terbelalak melihat tubuhnya sendiri sedang terbaring di atas ranjang reot rumah sakit. Raganya terkulai lemas. Sebelah kelopak matanya membuka sedikit. Kain perban melingkari kepalanya. Terdapat luka-luka pada beberapa bagian tubuhnya. Selang infus menancap dipunggung tangan kirinya. Alat bantu pernafasan dipasangkan pada mulutnya. Terdapat alat digital yang dapat memperlihatkan aktivitas jantung dan pernafasannya. Di samping ranjangnya berdiri tabung oksigen besar berwarna biru.

“Apa kamu malaikat?” tanya Alan. Si ‘manusia cahaya’ hanya menggeleng.
“Apa yang terjadi? Apa aku mati?” tanya Alan lagi.
“Belum.” jawab ‘manusia cahaya’.
“Koma?”
“Ya.”
“Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Kau sedang berada di ambang batas. Seratus orang yang malam ini mendoakan kesembuhanmu, akan membantumu untuk bisa ‘hidup’ kembali. Waktunya hanya tiga jam saja. Dan aku akan menemanimu selama waktu itu.”
“Kalau tak sampai seratus, apa yang akan terjadi?”
“Kau akan mati.”

Alan kemudian pergi bersama ‘manusia cahaya’ itu . Mencari seratus orang yang mendoakannya malam itu. Dimulai dari lingkungan terdekatnya…

Rumah Alan, gelap dan sepi… tak ada satu pun lampu yang menyala. Jelas tak ada orang di dalamnya. Alan terlihat kecewa. Lalu Alan dan ‘manusia cahaya’ berlalu meninggalkan rumah. Namun sayup-sayup ia mendengar sebuah doa, asalnya tak jauh dari rumahnya.

Ibu Yani, janda separuh baya yang tinggal di seberang rumahnya, yang tak pernah ia hiraukan.
Satu orang…

Alan bergembira sedikit. Ia kembali melakukan perjalanan.

Amin, seorang pemuda pengangkut sampah yang selalu dilecehkannya karena lebih miskin darinya.
Dua orang…

Dara, gadis dari masa lalunya, yang sangat mencintainya namun ditinggalkannya secara tidak layak.
Tiga orang…

Mang Cecep, pesuruh sekolah yang kerap ia bully semasa sekolah dulu.
Empat orang…

Aling, sepupunya yang selalu ia paksa untuk menuruti semua keinginannya.
Lima orang…

Dan seterusnya…
Alan dan ‘manusia cahaya’ terus berkeliling mencari orang-orang yang mendoakan kesehatan Alan.

Sembilan puluh tujuh…
Sembilan puluh delapan…
Sembilan puluh sembilan…

“Waktunya habis. Sudah saatnya kita kembali.” kata ‘manusia cahaya’ itu.

Sembilan puluh sembilan orang. Seratus orang kurang satu. Sudah banyak, tetapi jumlah tak genap tetap tak dapat menyelamatkan hidupnya.

Muncul serentetan penyesalan dalam hati Alan. Teringat betapa ia telah menyia-nyiakan kehidupannya dengan hal-hal yang tak berarti, yang selama ini ia lakukan. Ia sudah terlalu banyak berbalut dosa. Membangkang orang tua. Menghabiskan harta mereka. Menyakiti orang-orang disekelilingnya.
Menikmati minuman keras. Bermain-main dengan banyak wanita. Semuanya hanya hura-hura dan euforia di dunia fana yang ini. Apa lagi baktinya kepada Tuhan Yang Maha Esa? Sama sekali tak ada cacatannya dalam sejarah kehidupan Alan. Orang-orang yang tengah mendoakannya justru berasal dari kalangan yang kerap ia remehkan, ia kucilkan, ia lecehkan, dan ia sakiti. Ia merasa amat malu. Kini, ia lebih mengerti betapa berharganya hidup sebagai orang yang bertanggung jawab.

Alan dan ‘manusia cahaya’ kembali ke rumah sakit tempat Alan dirawat. Ketika Alan sampai di ruangannya, lagi-lagi sebuah pemandangan kembali mencengangkannya. Terlihat mama duduk tertunduk di tepi ranjang reot tempat Alan dibaringkan. Tangan kanan mama memegang Al-Quran, rupanya telah dibukanya halaman demi halaman. Sedang jemari tangan kirinya menggenggam tasbih. Mama tampak kelelahan. Rupanya mama terus berdoa untuk Alan. Meski lirih, doa mama terdengar tulus.

“Alan, doa dari ibumu adalah yang doa yang terakhir. Doa itu-lah yang kini dapat menyelamatkanmu.” kata ‘manusia cahaya’ itu.

Si ‘manusia cahaya’ menjauh pelan-pelan, semakin lama semakin menghilang. Cahaya putih kuning itu pun sirna secara perlahan. Berganti dengan keremangan, semakin lama semakin gelap. Dan akhirnya kegelapan itu membutakan mata Alan. Hitam.

Saat Alan membuka mata, ia kembali melihat cahaya putih kuning itu. Oh, rupanya hanya pendar cahaya lampu neon yang bercampur dengan warna matahari senja yang berasal dari jendela kamar yang tak tertutup oleh tirai. Sesaat ia hanya memandangi langit-langit kamar, lalu kepalanya menengok kearah samping dan memanggil mama.

“Subhanallah, terimakasih ya Allah… Alan telah membuka matanya!” seru mama tertahan.
“Maafkan Alan, mama…” kata Alan lirih.
“Iya, sayang. Mama udah maafkan kok.” jawab mama.
“Maafkan Alan…” ucapnya lagi.
“Iya, iya… Kamu tenang dulu, mama panggil dokter yang merawatmu…” mama buru-buru berlari keluar ruangan. Matanya berlinang air mata, namun ia berbahagia karena anaknya sadar kembali setelah mengalami koma selama satu bulan penuh.

Alan kembali memejamkan mata. Air matanya mengalir deras. Terbesit taubatan nasuha di hatinya. Ia bertekad untuk memperbaiki hidupnya. Ia sangat bersyukur karena Tuhan telah memberikan kesempatan kedua untuknya. Lebih beruntung dibanding dengan ke-empat temannya yang lebih dahulu tewas dalam kecelakaan maut waktu itu…

#

- Fiksi Islami ini ditulis oleh :: Nisya Rifiani / January 2012 -

21 Nov 2011

FIKSI : SECARIK KEPERCAYAAN

-Nisya Rifiani-

KETIKA pulang dari pengajian ahad sore hari itu, aku tidak lantas buru-buru menuju ke tempat kos. Aku meluangkan waktu sebentar untuk berdiskusi bersama ustadz, yang mengisi pengajian kali itu. Ya, buta akan kajian-kajian islami membuatku haus akan siraman rohani.

Kegerahan itu cukup terobati dengan mencoba mengikuti komunitas dan kegiatan berbasis agama, seperti yang kulakukan saat ini. Baik, setelah mendapatkan jawaban yang aku mau, cukup rasanya untuk mengakhiri diskusi singkat itu. Aku berpamitan kepada ustadz, dan tak lupa mengucap syukron.

Kemudian aku melangkahkan kaki keluar masjid, menuju papan pengumuman di samping beranda masjid. Siapa tahu ada kegiatan menarik yang bisa kuikuti, pikirku.

Papan pengumuman itu cukup lebar untuk mempublikasikan banyak informasi. Tapi, rupanya saat ini belum ada yang up-date. Sedikit kecewa, aku berniat pulang saja. Aku berbalik, terlihat seseorang berdiri disampingku –kurasa ia sudah cukup lama berada disana. Ia lalu bertanya kepadaku, tentang kegiatan-kegiatan di masjid itu. Hmm, kuberikan jawaban yang ia mau.

“Saya Zakaria…” tiba-tiba ia mengajakku berkenalan.
“Bagas…” kataku mengucap nama, singkat.

Seterusnya, hanya basa-basi busuk untuk melengkapi proses perkenalan yang tidak pernah direncanakan itu. Meski enggan, aku berusaha menyambut niatnya itu dengan senang hati.

#

Ah, rupanya aku terlelap beberapa saat.

Saat mataku terjaga, aku mendengar suara agak gaduh, asalnya dari luar. Terdengar pula dua orang lelaki sedang bercakap-cakap. Suara itu milik bapak pengelola asrama, seorang lagi suaranya tak terasa familiar di telingaku. Sesaat hening, terdengar bapak pengelola asrama pergi meninggalkan lantai 2.

Penasaran. Kubuka pintu ruanganku dengan perlahan.
Sungguh suatu kebetulan yang mengejutkan, di depan kamarku berdiri sesosok laki-laki yang tidak asing lagi. Ya, Zakaria. Orang yang pernah berkenalan denganku, satu - dua minggu lalu —ketika kami sama-sama membaca pengumuman di samping beranda masjid. Mau apa dia disini? Pikirku bertanya-tanya.

Oh, rupanya dia cuma mau pindah ke asrama ini. Ya, apa lagi?
Suara gaduh tadi ternyata suara Zakaria yang membawa barang-barangnya ke lantai 2. Agak kesulitan, namun berhasil juga.

Saat pertama kali bertemu dulu, aku memang nenerangkan dan memberitahu alamat kos-ku pada Zakaria. Tetapi aku tak pernah berfikir dan membayangkan di benar-benar muncul. Apalagi untuk menempati kamar kos kosong tepat disebelah kamar kos-ku…

Kepindahan Zakaria ke kamar sebelah membuat suasana asrama semakin manusiawi. Dari sekian banyak kamar yang tersedia di lantai 2, sebelumnya cuma dihuni aku dan Dimas saja, tentu bukan sesuatu yang menyenangkan. Apalagi ruangan dan koridor selalu kurang cahaya, membuat tempat itu remang-remang dan terkesan suram. Hiii… horror…

Balkon lantai 2 yang tak pernah terurus dan jarang digunakan pun kini menjadi tempat nongkrong aku dan Zaka, sapaan akrabnya. Hampir setiap malam ia menemaniku jagongan di beranda itu. Tak jarang kami berbicara hingga larut malam, kadang hingga subuh menjelang.

Kita bicarakan segala hal. Kita bicarakan negeri ini…

Kita bicarakan pemimpin-pemimpin yang korup, yang mengumpulkan kekayaan untuk diri mereka sendiri… Sialnya, bisa-bisanya mereka (masih) berada di puncak kekuasaan untuk membodohi rakyat.

Kita bicarakan masyarakat, yang tak pernah terangkat dari kemiskinan… Namun jarang mendapat perhatian dari mereka yang berada.

Kita bicarakan bangrutnya negara ini, yang sebentar-sebentar mengeluh…

Moral bangsa yang bobrok. Generasi muda yang bodoh.

Ah… begitu banyaknya hingga pikiranku sesak rasanya…

Sebelumnya aku tak pernah menyangka, dengan perkenalan yang singkat waktu itu, atau bahkan bisa kukatakan : tak tulus, membuat aku mengenal sosok Zakaria. Membawa ia datang kepadaku, dan melibatkan hubungan pertemanan. Itu yang namanya berjodoh.

#

Tiga bulan mengenal Zakaria belum merubah fikiranku bahwa Zakaria memang orang yang misterius. Meski kuakui, dia orang yang pintar. Dia orang yang cerdas. Ya, pintar dan cerdas dalam segala bidang. Berpengetahuan dan berpengalaman. Penampilannya memang sedikit berbeda. Baju ngaji yang longgar, celana yang sedikit menggantung, dengan janggut tipis di wajahnya. Itu sama sekali bukan fashion!

Ah, sudahlah. Toh, selama berteman denganku ia selalu baik, nggak neko-neko.

Oh, tiba-tiba aku teringat buku milikku yang dipinjamnya bulan lalu. Ia berjanji akan mengembalikannya minggu ini, tapi ia bahkan tak terlihat hingga bulan ini berakhir. Ah, padahal aku membutuhkan buku itu untuk mengerjakan tugas kuliah.

Dimas melewati lorong di depan kamarku. Segera kucegat dia dengan berondong pertanyaan dari dalam kamarku.

“Hei Dimas, dimana Zaka? Apa kamu melihatnya? Semenjak kemarin dia tak terlihat…” aku bertanya pada Dimas.

Sesaat tak ada jawaban. Kemudian Dimas tiba-tiba saja nongol di depan pintu kamarku dengan ekspresi wajah aneh dan kerut yang berlipat di dahinya.

“Lho… apa kamu nggak mendengar kabar, Gas?” kata Dimas balik bertanya. Aku menggeleng kepala.
“Memangnya ada apa?” tanyaku kemudian.

“Zakaria kabarnya ditangkap Densus 88 tadi malam di Grobokan, Jawa Tengah. Dia dituduh sebagai anggota jaringan teroris Al Qaeda yang dulu kerap latihan perang di Aceh. Katanya dia asisten muda dari seorang komandan sayap kanan jaringan itu. Yah, tangan kanan orang penting… Makanya, dari awal aku sudah curiga. Zaka itu kan orangnya misterius dan tertutup sekali. Dia juga sering memasukkan orang-orang berpenampilan serupa ke asrama. Ngakunya mahasiswa semester akhir tapi sama sekali nggak tau dimana kuliahnya, tidak diketahui asal-usulnya, dimana tempat lahirnya. Jangan-jangan teroris… Aku sebetulnya mau menasehati kamu untuk tidak terlalu “terlibat” dengannya, tapi selama ini belum ada kesempatan. Ketika aku berniat mengatakannya kepadamu dia selalu muncul secara tiba-tiba… Nah, sebentar lagi polisi pasti akan datang memeriksa kamar kosnya dan meminta keterangan kita sebagai saksi. Kita bersiap-siap saja…”

Oh… aku shock mendengar perkataan Dimas… Benarkah semua yang dikatakannya???
Mataku berkunang-kunang, pikiranku melayang-layang, dan tubuhku hampir rubuh…
Ya Allah… semoga orang itu bukanlah Zakaria yang selama ini kukenal… semoga orang itu adalah Zakaria yang lain…

#

- Cerpen Islami ini ditulis oleh :: Nisya Rifiani / November 2011 -

19 Nov 2011

FIKSI : CATATAN HARIAN RAHASIA

-Nisya Rifiani-

February 12th 2010

PSS SLEMAN VERSUS PSIM MATARAM…
Dua kelompok besar persatuan sepak bola di kota Jogja itu kembali dihadapkan pada sebuah pertandingan. Hari ini para penggila sepak bola Jogjakarta, khususnya penggemar dan pendukung dari kedua klub akan disibukkan dengan pertandingan sepak bola itu. Stadion Mandala Krida pasti akan sesak dipenuhi para supporter maupun simpatisan dari kedua kubu. Belum lagi, para pedagang asongan yang turut menjejali tempat laga itu. Jalanan di sekitarnya dipastikan padat merayap.

Ukh… lagi-lagi kesiangan…
Aku terbangun ketika matahari sudah tinggi, itu pun karena berbunyinya nada dering yang menandakan sebuah short message service masuk ke ponsel-ku. Aku belum sepenuhnya terjaga, tanganku meraba mencari dimana ponselku berada. Ketemu! Kubuka inbox dan segera membaca pesan yang baru masuk.

Selamat pagi dunia :)
Hayo bangun uda pagi….

Oh, rupanya itu sms dari Akhi
Aku segera mengirim pesan balasan pada Akhi. Aku berkata padanya, aku sudah bangun. Begitu cepat ia mengirimkan balasan lagi.

Mau ngampus jam brp???
Akhi pngin ktemu bentar aja…

Kubalas lagi, aku mengatakan akan pergi ke kampus pagi ini, tapi tak tahu jam berapa. Akhi mencari tahu apa saja kegiatanku, ia memaksa bertemu denganku hari ini. Dia bilang akan menemuiku di kampus jika pekerjaanku sudah selesai. Aku iya-kan permintaannya.

Aku keluar rumah sekitar pukul sepuluh pagi, sudah sangat siang –sebenarnya. Kendaraanku melaju ke kota, tapi aku tak ke pergi kampus seperti yang kukatakan kepada Akhi tadi. Melainkan menuju ke sebuah perpustakaan umum yang terletak di tengah kota Jogja. Kubuka komputer jinjing yang kupinjam dari Abbi dan mulai mengerjakan artikel yang rencananya akan dimuat di sebuah media massa remaja terkemuka di kota ini. Beberapa lama aku tekun dengan pekerjaanku, aku melirik jam yang tergantung di pergelangan tangan kananku. Setengah dua belas siang. “Akhi jadi menemuiku nggak ya???” tanyaku dalam hati, cemas menantinya.

Kulirik ponsel yang kuletakkan di samping laptop, hampir bersamaan dengan masuknya satu pesan. Akhi lagi… Kubaca, isinya menanyakan aku dimana dan penundaan waktu berjumpa karena Akhi harus sholat jum’at dulu. Aku mengatakan dimana kuberada, dan menyuruhnya tak usah buru-buru menemuiku. Toh, aku tak akan kemana-mana dan tetap menunggunya, di sini.

Akhi datang kepadaku sesaat setelah shalat jum’at berakhir. Saat itu hari sedang hujan. Tak terlalu deras tapi kurasa hujan itu turun di setiap sudut kota, merata, dan tak kunjung berhenti. Akhi datang, memberiku senyum dan langsung mengambil tempat duduk di sebelahku. Seperti biasanya, Akhi selalu memulai pembicaraan terlebih dahulu, mengajakku mengobrol. Selama beberapa lama kami bercengkerama, lalu Akhi mengeluarkan sebuah gelang tangan milikku, berwarna merah yang dihiasi liontin berinisial A ; namaku. Oh… aku mengira sudah menghilangkan gelang tangan itu, rupanya gelang itu tertinggal ketika aku mengantarkan masakan buatanku ke rumah kontrakan Akhi. Akhi bermaksud mengembalikannya. Aku senang menemukannya kembali dan segera memakaikannya di pergelangan tangan kiriku.

Akhi mengamatiku, kemudian mengeluarkan satu benda lagi dari sakunya dan menaruhnya dihadapanku. Sebuah kalung etnic berwarna merah menyala, kesukaanku.

Happy Milad…

Ucap Akhi, sambil memandangku, dan tersenyum… manis… –pikirku…

Sesaat, aku tak mampu berkata apapun. Hanya bisa memandang matanya yang menatapku lembut. Kemudian aku memberikan senyum termanisku hanya untuknya.

Jazakkumullah Khairan Katsir… kataku lirih padanya.

Kukira, Akhi tak ingat peringatan milad-ku hari ini. Kulayangkan kesahku itu padanya. Tapi ia membantah, jelas ia tak melupakan hari lahirku, katanya. Padahal, dalam ingatanku tak pernah sekalipun kuberitahu tanggal dan bulan kelahiranku tapi ia mengingatnya dengan jelas. Mungkin Akhi tahu dari facebook, atau sengaja mengingatnya ketika aku pertama kali memperkenalkan diri dulu, pikirku. Ia panjatkan doa dan harapan untukku. Aku mengamini.

Ia meminta maaf, karena kado ulang tahun untukku tak dibungkus sebagaimana mestinya. Laki-laki sering malas, katanya. Ia kemudian banyak bercerita. Mengisahkan kegiatan-kegiatannya selama kami tak bertemu. Bercerita ketika ia pulang kampung, bercerita ketika ia berlibur ke pulau bali dan lombok, dan bercerita rencana kegiatannya bulan depan. Akhi menawariku makan siang. Sayangnya, Akhi sedang berpuasa, karena ada yang sedang ia inginkan, katanya… Tak kutanya mengapa, itu urusannya dengan Allah. Dan aku enggan mencampurinya.

Akhi bertanya kepadaku, mengapa saat itu aku mengenakan jilbab. Aku tampil manis menemuinya dengan mengenakan jilbab, untuk pertama kalinya selama kami saling mengenal. Kujawab, iseng saja… mulai sekarang adik berniat mengenakan jilbab terus… lanjutku. Akhi memandangku, membuat aku merasa : aneh. “Adik yakin mau pakai jilbab terus???” tanya Akhi. Aku memandang Akhi, tak percaya Akhi tak memercayaiku. Aku enggan menjawab pertanyaannya.

Jam empat sore…
Hujan belum berhenti ketika kami akan beranjak meninggalkan perpustakaan itu. Tapi, kami sudah terlalu lama berada di tempat itu. Maka, kami putuskan untuk pulang. Kemudian bertemu kembali selepas waktu maghrib untuk makan malam bersama. Dengan catatan : kalau tidak hujan.
Kami berjalan beriringan, keluar menuju tempat parkir kendaraan. Akhi tak mengantarku pulang, aku selalu membawa kendaraan sendiri. Lagipula kami pernah sepakat, jika mau berpergian bersama, pakai motor sendiri-sendiri! Nggak boleh berboncengan! Sebuah perjanjian di awal pertemanan, juga sebagai hijab supaya kami tetap bisa menjaga diri dan terhidar dari dosa walau sekecil apapun.

Kami sempat menunggu beberapa menit tetapi hujan tak kunjung reda. Aku ingin segera sampai di rumah, nekat saja aku ingin menembus tirai hujan itu. Aku tak membawa jaket, sedang aku enggan mengenakan mantel hujan. Akhi berniat meminjamkan jaket yang dikenakannya padaku.
“Mau pakai jaket Akhi tidak?” tanya Akhi.
“Tidak…” jawabku sembari menggeleng pelan. Ah, Akhi memang suka bercanda. Dia pasti tahu kalau jaketnya tak akan muat dipakaikan pada tubuhku yang gendut.
“Lihat, jaket Akhi besar.” kata Akhi lagi.
Tapi aku tetap menggeleng dan berkata, tidak…

Syukron, ya Akhi… kataku dalam hati, lagi…

Aku pulang ke rumah dengan hati senang. Kembali melewati stadion yang digunakan sebagai ajang pertempuran dua kesebelasan itu. Ramai. Syukurlah pertandingan belum berakhir sehingga aku tidak terjebak dalam hiruk pikuk supporter hijau biru serta kemacetan yang ditimbulkannya. Sampai di rumah, aku sedikit basah. Kulihat adik laki-laki-ku sedang menonton pertandingan sepak bola. Rupanya duel antar kesebelasan Elang Jawa melawan Laskar Mataram tadi sedang disiarkan secara live di salah satu stasiun televisi nasional. Keduanya sama-sama tak mau mengalah dan berjuang demi hidup-mati tim. Bagi mereka hari itu adalah hari yang berat, meski demikian hari itu merupakan hari yang indah bagiku. Hari yang menggembirakan, karena pada peringatan milad-ku Akhi ada untukku. Hanya untukku. Aku senaaang sekaliii… Alhamdulillah

Syukron, Akhi
Akhi yang menyayangiku… –mmm… kurasa…
(Aku tidak tahu apakah Akhi benar-benar menyayangiku atau tidak???)
Tetapi sampai kapan pun aku akan menyayangi Akhilillahi ta’alaInsyaallah… :) 

#

- Cerpen Islami ini ditulis oleh :: Nisya Rifiani / February 2010 -

17 Nov 2011

FIKSI : LELAKI DALAM KENANGAN SUBUH

- Nisya Rifiani -

KYAAA…!!!

Jeritan pilu seorang gadis muda berkerudung memecah senja jingga kala itu. Rupanya seorang pengendara motor tak sengaja menyerempetnya hingga ia terhempas ke jalanan. Beruntung jalanan itu sepi sehingga tak ada kendaraan lain yang membahayakannya. Gadis itu pun hanya menderita luka lecet di telapak tangannya dan sedikit mengalami shock. Pengendara motor itu berhenti, turun, kemudian segera menghampiri gadis itu.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Sang pengendara motor. Ia bermaksud membantu gadis itu berdiri, tetapi Si gadis segera menepis tangan pengendara motor itu dengan sopan. Tak sengaja mata mereka beradu pandang. Si gadis terpaku melihat bola mata hitam legam milik pemuda yang barusan menabraknya. Sang pengendara motor tak kalah herannya.

“Hei, Nona… Kamu tidak apa-apa?” ulang Sang pengendara motor.
“Ah, tidak… Saya tidak apa-apa.” jawab gadis itu. Bergegas ia berdiri dan membersihkan pakaian muslimnya dari pasir dan kotoran. “Maaf, saya harus segera pergi.” kata gadis itu pada Sang pengendara motor. Begitu cepat gadis itu berlalu dan menghilang di tikungan. Sang pengendara motor tak mampu menahannya, hingga tak sempat mengucap maaf.

Keesokan harinya selepas waktu subuh, di sebuah rumah yang tak jauh dari tempat kejadian perkara. Terlihat seorang gadis yang sedang menyapu halaman dan merawat tanaman. Kemudian datang seorang pengantar koran dengan mengendarai sepeda motornya, menghampiri rumah itu.
“Kamu…” Si gadis mengenali pemuda pengantar koran itu sebagai orang yang tak sengaja menabraknya semalam.
“Oh, ternyata Nona. Saya datang mengantarkan koran dan susu. Ini…” pemuda itu menyerahkan surat kabar pagi dan sebotol susu segar pada Si gadis.
“Terima kasih.” ucap Si gadis.
“Nama saya Raufan.” Pemuda itu menyebutkan nama.
“Raina.” balas Si gadis seraya mengangguk sopan.
“Oh ya, maaf atas kejadian semalam. Saya tak sengaja menyerempet Nona.”
“Tidak apa-apa. Bagaimana dengan keadaanmu sendiri?”
“Saya baik-baik saja. Hanya, kalah taruhan…”
“Taruhan?”
“Ya, balapan liar.”
“Jadi, kamu ikut balapan liar?”
“Ya.”
“Kenapa kamu ikut balapan liar yang berbahaya dan beresiko besar seperti itu?”
“Nona… tahu apa tentang saya? Saya bukan orang berada seperti Nona. Kedua orang tua saya telah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Saya adalah anak sulung yang kini menjadi tulang punggung keluarga. Saya harus membiayai diri sendiri dan kedua adik saya yang masih kecil. Kerja paruh waktu di berbagai tempat masih belum cukup untuk membiayai hidup kami bertiga. Padahal saya telah bekerja keras setiap hari. Termasuk menggantikan teman mengantarkan koran dan susu. Dengan satu-satunya sepeda motor yang saya miliki saya mencoba menambah penghasilan dengan ikut balapan liar. Kalau menang, hasil yang didapat lumayan banyak…”
Raina tercengang mendengar pengakuan Raufan. Memang, sudah beberapa kali dalam bulan ini suara motor itu membuat gaduh di tengah malam. Rupanya Raufan pengendaranya.

“Nona jangan memandang saya seperti itu. Meski saya orang tak mampu saya tidak butuh belas kasih dari orang lain.” kata Raufan.
“Maaf. Sungguh saya tidak ada maksud merendahkan siapapun.” balas Raina tulus.
“Baiklah, saya harus berusaha lebih keras lagi.” kata Raufan.  “Nona juga, ya.” Raufan memberikan pesan diiringi dengan senyuman. Lalu bergegas pergi mengantarkan koran kepada pelanggan lainnya. Raina membawa masuk koran dan susu itu ke dalam rumah. Ia lalu segera bersiap-siap pergi kuliah. Takut terlambat di jam pertamanya.

#

Berawal dari rangkaian pertemuan yang tak pernah diduga itu –serta pekerjaan Raufan sebagai pengantar koran, memang menjadikan Raina dan Raufan bertemu setiap hari. Hal itu kemudian membuat Raina begitu tertarik dengan pemuda bernama Raufan itu. Raina tak mengerti mengapa pemuda itu begitu memesona dirinya. Setiap ba’da subuh seusai shalat fardhu ditemuinya Raufan yang datang mengantarkan koran dan susu. Ia begitu menantikan saat kedatangan Raufan. Dimana Raina bisa melihat Raufan dari dekat. Tak jarang Raufan terlihat sedang bercengkerama dengan Raina, bahkan sesekali bercanda bersama. Kesan formal Raufan terhadap Raina pun mencair, berubah menjadi kehangatan dan keakraban. Pemuda itu selalu mengantarkan koran dan susu tepat waktu, dan pergi diiringi dengan senyuman, manis. Kedekatan Raina dengan Raufan pun berjalan seiringan dengan masa.

Raufan memang bukan pemuda yang istimewa. Hanya seorang pemuda yatim piatu biasa. Meski sedikit ugal-ugalan, tetapi Raufan adalah pemuda yang baik, sopan dan taat dalam menjalankan kewajiban. Raufan hanya tinggal bertiga saja dengan kedua adiknya disebuah rumah kontrakan reot yang berjarak beberapa kilometer dari rumah Raina. Rumah itu pun berada di tepi perkebunan apel milik ayah Raina. Baru beberapa minggu ini mereka pindah ke rumah kontrakan tersebut. Untuk mencukupi kebutuhan, Raufan harus bekerja paruh waktu di berbagai tempat. Namun terkadang penghasilan yang didapat masih kurang meski hanya untuk hidup sehari-hari. Raufan pun mesti bekerja ekstra keras untuk menghidupi dirinya sendiri serta kedua adiknya. Raufan… seorang pemuda dengan tanggung jawab besar yang dipikulnya seorang diri. Betapa sulitnya Raufan hidup dengan cara itu, tetap harus menghadapinya dengan tegar. Mempertaruhkan semua yang ia miliki dengan resiko teramat besar, bahkan nyawa sekalipun…

Abah telah lama memperhatikan Raina. Melihat kedekatan Raina dengan Raufan membuat Abah menduga-duga telah timbul rasa antara keduanya. Suatu saat Abah menginterogasi Raina sesaat setelah ia menerima koran dan susu.

“Abah perhatikan wajahmu selalu berseri-seri setelah menerima koran dan susu di pagi hari. Apa karena pemuda itu?” tanya Abah. Raina tak berani menjawab pertanyaan Abah.

“Raina, Abah tak ijinkan kau bersama dengan pemuda ugal-ugalan itu. Abah dengar dari Mang Asep, pemuda itu yang sering balapan malam-malam. Kalau soal jodoh, biar Abah kenalkan kamu dengan putra teman Abah yang sudah pasti sholeh.” kata Abah.

“Tapi, Abah…” Raina memprotes.
“Sudah Raina. Kalau soal ini Abah tak mau ada kompromi.” kata Abah. Raina hanya terdiam mendengar kata-kata Abah.

Raina dibesarkan dalam keluarga Islam dibawah pengajaran bijaksana Abah dan didikan keras Umi. Tentu saja orang tuanya tidak menyetujui hubungannya dengan pemuda tak jelas seperti Raufan. Raina memang ber’ikhtiar dengan Raufan, tetapi ia memilih diam. Memang sulit ketika kita dihadapkan pada dua hal penting, dan harus menentukan pilihan ; antara berbakti pada orang tua atau memilih pemuda yang dicintainya… Raufan pun tak dapat berbuat banyak. Betapapun ia sangat mencintai Raina…

Seperti pagi hari-hari sebelumnya, Raina selalu menunggu Raufan yang mengantarkan koran dan susu. Namun pagi itu Raufan tak terlihat.

“Mmm… mana Raufan?” tanya Raina pada Si pengantar koran yang datang pagi buta itu.

“Raufan sudah nggak nggantikan saya ngantar koran dan susu lagi, Non. Dia balik ke pekerjaannya yang lama.” jawab Si pengantar koran. “Ini Non koran dan susunya. Misi Non…” lanjut Si pengantar koran itu.

“Iya Mang, Makasih…” ucap Raina, tersirat raut kekecewaan di wajah cantiknya.

Sejak saat itu Raina tak lagi melihat Raufan. Raungan balap motor di malam hari itu pun menghilang dan pemukiman kembali menjadi tenang. Meski demikian, Raina sangat kehilangan.

#

Bermingggu lamanya Raufan menghilang dari kehidupan Raina. Hingga malam itu…
Selepas waktu isya’, samar-samar Raina mendengar suara mesin motor Raufan yang khas. Berhenti tepat di halaman rumahnya.

“Raufan…” Raina berbisik tertahan.

Bergegas ia membereskan mukenanya dan segera memakai pakaian yang pantas. Tanpa sepengetahuan Abah, diam-diam Raina membukakan pintu untuk Raufan. Raufan datang mengendarai motornya, lengkap dengan jaket kulitnya yang kini telah koyak. Raufan terlihat pucat. Ada beberapa gores luka di wajah tampannya. Sesekali, ia menyeka darah yang keluar dari lubang hidungnya. Raufan tersenyum tipis ketika Raina membukakan pintu untuknya.

“Naiklah ke atas motorku. Aku akan membawamu jalan-jalan sebentar saja.” Kata Raufan. Raina menyeritkan kening, masih tak mengerti apa maksud Raufan. Ia hanya terdiam. Raufan turun dari motornya dan menghampiri Raina.

“Selama aku mengenalmu, tak pernah satu kali pun aku mengajakmu pergi jalan-jalan. Naiklah dan aku akan membawamu jalan-jalan sebentar.”  lanjut Raufan.

“Ya, tapi bagaimana kalau besok pagi saja. Kurasa hari ini sudah terlalu malam.” kata Raina.

“Kamu tahu? Suasana malam hari yang hitam dihiasi dengan lampu-lampu kota sangatlah indah…” kata Raufan.

“Ya… Tapi Abah…” Raina memprotes.

Raufan kemudian menuntun Raina menaiki motornya. Raina tak lagi dapat mengelak. Sedetik kemudian mereka berdua sudah meluncur ke jalan raya dan melintasi jalanan di pusat kota. Sesekali Raufan memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Ngeri juga Raina dibuatnya. Sepanjang perjalanan Raufan tak mengatakan sepatah kata pun. Begitu juga dengan Raina. Keduanya sama-sama membisu. Tetapi bagi Raina, tak ada satu kata kiasan yang dapat mewakilkan kebahagiaannya ketika itu. Raut wajah Raina terlihat sangat senang. Demikian pula dengan Raufan.

Sebelum larut malam Raufan kembali mengantarkan Raina pulang ke rumah. Ketika memasuki pekarangan rumah, terlihat Abah tengah menunggu di beranda rumah. Rupanya Abah sadar Raina tidak lagi berada di kamarnya.

“Apa yang kamu lakukan pada putri saya?” tanya Abah pada Raufan. “Raina, segera masuk ke dalam!” perintah Abah. Raina tertunduk dan bergegas masuk.

“Tunggu…” kata Raufan mencegah, suaranya terdengar parau. Langkah Raina tertahan oleh ucapan Raufan. “Tolong dengarkan sebentar…” lanjut Raufan.

“Saya benar-benar meminta maaf atas kelakuan saya selama ini, terutama apabila mengganggu ketenangan keluarga ini. Namun kali ini saya hanya ingin meminta tolong, untuk menjaga kedua adik saya. Hanya kedua adik saya yang saya miliki di dunia ini.” kata Raufan.

Abah hanya mengangguk-angguk saja tanpa memperlihatkan ekspresi. Sementara Raina mengangguk pelan meski tak sepenuhnya paham akan maksud Raufan. Abah dan Raina masuk ke dalam ruangan, meninggalkan Raufan sendirian di beranda rumah.

Pagi harinya, Raina bermaksud meminta maaf kepada Abah atas kelancangannya semalam.
“Abah pasti marah sekali. Maafkan Raina, Abah…” Raina menunjukkan penyesalannya. Abah menggelangkan kepalanya, pelan.

“Ada apa, Abah?” tanya Raina.

“Tadi pagi-pagi sekali Mang Asep datang membawa kabar…” kata Abah.

“Maksud Abah, Mang Asep penjaga perkebunan apel milik Abah… memangnya, ada kabar apa Abah?” tanya Raina.

Abah menghela napas panjang, seakan sedang menanggung beban yang teramat berat. Perlu beberapa waktu untuk menjawab pertanyaan Raina.
“Pemuda itu telah berpulang ke rahmatullah…” kata Abah kemudian.

Raina tercekat mendengar kabar itu. “Raufan… Innalillahi wa innailaihi rooji’un…” bisik Raina dengan suara bergetar. “Kapan itu terjadi, Abah…?” tanya Raina.

“Kemarin, ba’da maghrib… kecelakaan motor...”
“Ya Allah…”

“Maafkan Abah, Raina…”

Raina semakin ingin menangis. Tetapi ia hanya menangis dalam kesunyian. Menangis tanpa isak dan air mata. Namun, bukankah tangis yang demikian itu merupakan tangis yang paling menyakitkan…

#

Satu minggu setelah berpulangnya Raufan…

“Raina, apa kamu masih ingat kata-kata pemuda itu malam itu?” tanya Abah kepada Raina. “Abah akan menolongnya, sesuai dengan kata-kata pemuda itu.” lanjut Abah.

“Maksud Abah, Abah bersedia mengurus adik-adik Raufan?”

“Ya, tolong bersihkan kamar kosong di lantai 2. Kamar itu akan ditempati oleh adik-adik dari pemuda itu.” Raina seakan tak mempercayai pendengarannya. Abah bersedia mengurus Bagas dan Ayu, adik-adik Raufan.

“Terimakasih, Abah…” kata Raina. Alhamdulillah Ya Allah

Mulai keesokan harinya, kamar kosong di lantai 2 sudah ditempati dua anak manis. Rumah Abah kini dihiasi kecerian adik-adik Raufan. Anak-anak itu begitu tegar. Meski baru saja kehilangan orang yang mereka cintai namun mereka sama sekali tak mau memperlihatkannya pada orang lain. Raina begitu menyayangi anak-anak itu. Begitu juga dengan Abah, dan Umi. Bahkan mereka telah memutuskan untuk mengangkat Bagas dan Ayu menjadi anak mereka. Raina sangat senang, itu berarti adik-adik Raufan akan menjadi adik-adik Raina juga.

“Kak Raina…” Bagas mengetuk pintu kamar Raina.
“Iya, kemari. Ayo masuk, Bagas dan Ayu.” kata Raina. Bagas dan Ayu masuk ke kamar Raina. Takut-takut.
“Ada apa, Bagas… Ayu…?
“Um… ada kartu ucapan yang ditulis Kak Raufan sebelum meninggal.” kata Bagas.
“Kartu ucapan untuk Kak Raina.” lanjut Ayu.
Bagas menyerahkan sepucuk kartu ucapan kepada Raina. Dibuka dan dibacanya kartu ucapan dari Raufan :

Hari ini Raufan masih sayang.
Salam Sayang.
Raufan.

Sunggguh, Raina sangat tersentuh dengan ucapan pada kartu yang ditulis oleh Raufan. Raina mendekap erat Bagas dan Ayu dalam pelukannya. Agar kedua anak itu juga bisa merasakan bahwa Raina sangat mencintai Raufan. Kedatangan Raufan malam itu tetap menjadi misteri. Biarlah peristiwa itu menjadi kenangan bagi Raina. Malam terakhir Raina berjumpa dengan Raufan.

#

- Cerpen Islami ini ditulis oleh :: Nisya Rifiani / January 2011 -