Untuk pemesanan, silakan sms ke 0858 6831 9039 | 754DDE1F dengan format :
Nama : Alamat : Jenis Barang : Ukuran : Jumlah : No HP :
--------------------
Pembayaran via BCA. Nomor rekening akan kami beritahukan kemudian. Masukkan tiga digit angka no hp Anda untuk memudahkan pendataan barang pesanan Anda. Setelah transfer, silakan konfirmasi pembayaran ke customer service kami.
Untuk pemesanan, silakan sms ke 0858 6831 9039 | 754DDE1F dengan format :
Nama :
Alamat :
Jenis Barang :
Ukuran :
Jumlah :
No HP :
--------------------
Pembayaran via BCA. Nomor rekening akan kami beritahukan kemudian.
Masukkan tiga digit angka no hp Anda untuk memudahkan pendataan
barang pesanan Anda.
Setelah transfer, silakan konfirmasi pembayaran ke customer service kami.
Untuk pemesanan, silakan sms ke 0858 6831 9039 | 754DDE1F dengan format :
Nama :
Alamat :
Jenis Barang :
Ukuran :
Jumlah :
No HP :
--------------------
Pembayaran via BCA. Nomor rekening akan kami beritahukan kemudian.
Masukkan tiga digit angka no hp Anda untuk memudahkan pendataan
barang pesanan Anda.
Setelah transfer, silakan konfirmasi pembayaran ke customer service kami.
Ini pas bantuin temen @Lichan Ali Warkhan. Acara ini adalah workshop
make-up untuk keperluan film, presented by Edge Film's and Dhanny Brain. Acara
ini adalah bagian dari event besar UKDW Japanese Festival, yang diselenggarakan
pada Desember 2011.
Kami pakai seragam yang sama, T-Shirt @Jogja Heroes League. Karena
T-Shirt-nya baru bisa kuambil satu hari sebelum acara, jadi nggak sempat
ngecilin ukuran kaosnya jadi size ladies. Apalagi mikirin kostum lainnya...
So, akhirnya aku memadupadankan T-Shirt, dengan manset garis-garis hitam
putih dan rok kotak-kotak with renda air buatan Mbak @Erna Erya Dewi. Ditambah
boots merah dan topi hitam (yang ini asal nyomot aja pas mau berangkat ke
acara). Memang terlihat lebih ‘berat’, tapi saat itu hanya gaya ini-lah yang
terlintas… :)
- With Mas Achmad Choirul Sidiq <3 & Mas Bagas Prasetyadi <3 -
Pada medio
Desember 2011 penulis berkesempatan untuk hadir dalam acara Fashion Show &
Pemutaran Film Dokumenter LURIK JAWA : Perjalanan Kesederhanaan – sebuah
pagelaran tunggal oleh Ninik Darmawan.
Apa
yang terbayang di benak kita ketika mendengar kata ‘Lurik’?
Mungkin
sebagian besar dari kita berfikir lurik adalah kain tradisional jawa − yang sering dijadikan seragam surjan supir andong,
seragam prajurit keraton, atau bahkan stagen mbok-mbok jamu gendong. Kuno banget kan… Eits, jangan salah! Di tangan
Ninik Darmawan lurik bisa dikreasikan menjadi sandang modern bernilai seni tinggi, dan
Fashion
Show & Pemutaran Film Dokumenter LURIK JAWA : Perjalanan Kesederhanaan – merupakan
pameran karya tunggal Ninik Darmawan. Ninik Darmawan atau yang biasa kusapa
Tante Ninik, ialah fashion designer asal
Jogjakarta yang pada kain lurik. Tante Ninik juga adalah ketua Asosiasi Perancang Pengusaha
Mode Indonesia (APPMI) Yogyakarta.
Tante Ninik Darmawan
Foto :
Istimewa
Fashion
show-nya sendiri mengusung tema “Lurik Sepanjang Masa – Rare Simplicity”. Event
ini digelar pada hari Rabu, 21 Desember 2012 di Kraton Ballroom, Royal
Ambarukmo Hotel, Yogyakarta. Semua memang
digelar dalam kesederhanaan. Tak ada catwalk,
model hanya berjalan di sebuah track
diantara ratusan tamu yang hadir. Acara fashion
ini dibarengai pula dengan pameran foto, pameran motif lurik, pemutaran film dokumenter,
peluncuran buku, hingga bazaar kain lurik yang memboyong langsung para pengrajinnya. Yup,
Tante Ninik juga mengundang para
perajin lurik dari seluruh DIY dan Jateng. Sedangkan, film dokumenter tentang
kain lurik ini dikonsep oleh Ninik darmawan sendiri. Acara ini juga didukung
penuh oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DIY.
Bagi
Tante Ninik, event show tahunan ini
merupakan salah satu upaya mempublikasikan lurik ke publik serta usaha
pemberdayaan terhadap kain tradisional jawa ini. Selain mengenalkan lurik dan
motif-motifnya, juga untuk menggali potensi kain maupun pengrajinnya – dan mengarahkannya pada bisnis. “Pagelaran ini
juga berkaitan dengan pengembangan ukuran benang, motif, SDM dan warna dari
tenun lurik,” tutur Tante Ninik. Menurut pengamatan Tante Ninik, lurik
sebagai kain tenun tradisional yang kesulitan mendapat tempat bahkan di daerah
asalnya sendiri. kecintaannya pada lurik memberikan semangat untuk memajukan
lurik, industri lurik, dan pengrajinnya .
Ia merasa perlu terus-menerus
mengangkat lurik supaya memiliki nilai budaya, sosial, dan ekonomi. “Kondisi lurik
sekarang semakin terpuruk. Fungsinya tidak berkembang, misalnya hanya dipakai
oleh prajurit dan abdi dalem,” lanjut perempuan bernama asli Dwi Suwityantini
ini. Tante Ninik juga menyayangkan kondisi lurik tak mampu mengikuti era.
“Padahal masa telah berubah, tetapi masyarakat makin lama malah tidak
membutuhkan lurik. Saya sudah melakukan penelitian tentang lurik, ada 60 motif
lurik. Saya ingin membangun image lurik berkarakter sederhana,” jelasnya.
Hadir dalam acara
fashion show tunggal seperti ini
adalah pengalaman pertama bagiku. So
Amazing! Dapat undangan khusus, dan duduk diantara tamu kehormatana
lainnya. Makin Amazing! Semua ini
nggak lepas dari undangan Rani, anak perempuan Tante Ninik. Aku mengenal Rani
dari teman-teman komunitas cosplay
Jogjakarta. Thanks Rani!