21 Mar 2013

Kuliah Komunikasi - Media Literacy #4 (Review)

KULIAH KOMUNIKASI
Studi Literasi Media (Bagian IV)
Review by : Nisya Rifiani

1.    Literasi Media - James William Potter
James William Potter dalam bukunya berjudul Media Literacy menjelaskan tiga ide fundamental dalam konsep literasi media (1). Pertama, literasi media merupakan sebuah continuum. Bukan sebuah kategori -seperti sebuah kotak- dimana seseorang termasuk dalam kategori tersebut ataukah tidak. Pada dasarnya setiap individu memiliki pemahaman mengenai media meski berbeda tingkatan antara satu individu dengan individu lainnya. Kita tidak dapat menyatakan seseorang sama sekali tidak literate ataupun menyatakan seseorang literate secara sempurna. Artinya, tidak ada seorang pun yang tidak memahami media dan tidak ada seorang pun yang memahami media secara lengkap. Selalu terdapat ruang untuk perbaikan, peningkatan dan pengembangan kemampuan literasi media. Kekuatan perspektif seorang individu ditentukan oleh kualitas dari struktur pengetahuannya. Sedangkan kualitas struktur pengetahuan seorang individu ditentukan oleh keahlian dan pengalaman yang dimiliki individu tersebut ketika berinteraksi dengan media.
Kedua, literasi media bersifat multi-dimensional. Struktur pengetahuan seorang individu terdiri dari informasi yang berasal dari empat domain yaitu domain kognitif, emosional, estetik, dan moral. Domain kognitif berhubungan dengan fakta yang terdapat pada informasi. Domain emosional mengandung informasi yang berkaitan dengan perasaan seperti cinta, kemarahan, kebencian, dan sebagainya. Domain estetik mengandung informasi yang berkaitan dengan bagaimana produksi suatu pesan. Domain moral mengandung informasi yang berkaitan dengan nilai, basis untuk mengambil keputusan tentang benar dan salah.
Ketiga, tujuan literasi media adalah memberikan kontrol lebih dalam terhadap audiens dalam melakukan interpretasi dan/atau penafsiran suatu pesan. Hal ini bukan berarti individu dapat mengubah isi atau pesan dari media. Kontrol lebih mengarah pada makna kemampuan individu untuk menghadapai terpaan media dan mengendalikan dampak dari terpaan media terhadap individu. Semakin tinggi kontrol yang dimiliki individu semakin bagus apresiasinya.
Seseorang dengan tingkat literasi media yang rendah akan cenderung menerima begitu saja informasi dari media tanpa melakukan refleksi lebih kritis. Ia tidak menyadari bahwa informasi yang disampaikan mengandung banyak makna dan merupakan sebuah interpretasi. Semakin rendah tingkat literasi media yang dimiliki seseorang semakin dangkal makna yang didapatnya. Sebaliknya, seseorang dengan tingkat literasi media yang tinggi berarti semakin banyak pilihan yang dimilikinya untuk menafsirkan pesan. Semakin tinggi tingkat literasi media yang dimiliki seseorang semakin banyak makna yang dapat digalinya.
Selanjutnya Potter mendefinisikan media literacy sebagai kumpulan perspektif yang digunakan individu secara aktif untuk mengungkap diri sendiri pada media untuk menafsirkan pemaknaan pesan-pesan yang diterima. Perspektif yang dipakai oleh individu tersebut berasal dari struktur pengetahuan (knowledge structure). Dalam membangun struktur pengetahuan kita membutuhkan keterampilan dan informasi. Sruktur pengetahuan membentuk platform tempat kita memandang berbagai fenomena dalam media. Aktif dalam menggunakan media bertujuan supaya kita sadar tentang pesan dan secara cepat saling berinteraksi dengan media-media tersebut. Semakin baik struktur pengetahuan yang kita miliki, semakin banyak fenomena media yang kita “lihat”. Perspektif ini menjadikan kita memandang media dengan lebih lengkap dan mendalam sehingga media benar-benar berguna bagi kehidupan kita.
Terdapat dua proses dalam membangun literasi media. Pertama, membangun strukur pengetahuan yang kuat sehingga seseorang menjadi lebih media literate. Kedua, bertindak dalam cara “media literate” selama berhubungan dengan media. Tujuannya adalah memperoleh lebih banyak kontrol selama dipapar oleh media dan mengkonstruksi makna dari pesan media tersebut. Tujuan pendidikan literasi media adalah agar masyarakat dapat memahami media. Memberikan pengetahuan pada khalayak dan pengguna media untuk bersikap kritis dalam menganalisis pesan yang disampaikan oleh media massa.

1.    Struktur pengetahuan (Knowledge Structure)
Struktur pengetahuan merupakan fondasi utama dalam membangun literasi media, karenanya struktur pengetahuan ini menjadi sangat penting dalam membangun perspektif literasi media bagi audiens media massa. Potter menyatakan bahwa struktur pengetahuan merupakan seperangkat informasi yang terorganisasi dalam memori seseorang. Struktur pengetahuan seseorang tidak terbangun sendirinya melainkan memerlukan perhatian dan ketepatan. Struktur pengetahuan bukan hanya sekedar timbunan fakta, melainkan dibentuk dengan menyusun kepingan informasi secara hati-hati sehingga menjadi sebuah desain yang utuh. Potter mengidentifikasi struktur pengetahuan ini menjadi tiga alur, yakni struktur pengetahuan isi media, industri media, dan efek media.

a.    Struktur pengetahuan isi media (Media Content)
Struktur pengetahuan isi media adalah salah satu elemen literasi media yang penting karena pesan media tidak selalu seperti apa yang terlihat. Potter menyebutkan bahwa manusia pada dasarnya tengah hidup dalam dua dunia yaitu dunia nyata (real world) dan dunia media (media world). Dunia nyata di mana kita berada dalam interaksi langsung dengan orang lain. Sebagian besar dari kita merasa bahwa dunia nyata ini terlalu terbatas. Kita tidak bisa mendapatkan berbagai pengalaman dan informasi hanya dari dunia nyata.
Oleh karenanya kita memasuki dunia media untuk mendapatkan pengalaman dan informasi yang tidak bisa didapatkan dari dunia nyata. Bila telah menemukan pengalaman dan informasi maka kita akan kembali ke dunia nyata. Begitu seterusnya kita akan melintasi perbatasan antara dunia nyata dan dunia media untuk memperluas perspektif yang kita miliki. Namun kini batasan antara dunia nyata dan dunia media menjadi semakin sulit dilihat dengan jelas.
Media tidak lagi menunggu kita untuk berpetualang di dunianya tetapi media-lah yang kemudian membawa pesan-pesannya kepada kita. Paparan media (exposure) kepada kita tidak pernah direncanakan, maka kita tidak menyadari betapa besarnya paparan media kepada kita. Pesan media tidak selalu seperti apa yang terlihat, maka untuk memahami pesan media dengan baik kita memerlukan struktur pengetahuan isi media. Selanjutnya, struktur pengetahuan isi media dapat dikategorikan dalam tiga golongan yaitu pengetahuan tentang berita, hiburan, dan iklan.

a.    Pengetahuan tentang berita (News)
Potter menyatakan bahwa terdapat beberapa strategi dalam mengakses berita sehingga kita dapat menjadi lebih media literate yakni:
1)    Menganalisis perspektif berita
Sesungguhnya berita merupakan hasil rekonstruksi dari realitas sosial yang ditulis oleh jurnalis berdasarkan perspektif yang mereka miliki. Pada saat kita melihat sebuah berita selain melihat berita yang dilaporkan hendaknya kita melihat institusi yang melaporkan berita tersebut. Dengan pemikiran semacam ini kita akan terhindar dari kepercayaan yang salah bahwa suatu institusi selalu membawa pesan yang benar. Tidak ada berita yang lengkap, akurat, dan menggambarkan dunia secara seimbang.

2)    Mencari konteks berita
Istilah berita dan informasi cenderung dipandang sebagai hal yang sama. Padahal penting untuk membedakan antara keduanya. Berita (news) adalah sesuatu yang mengandung unsur baru (new). Sementara itu, informasi memberikan kita sesuatu yang bernilai tentang dunia. Dalam level literasi media yang tinggi, orang akan membedakan secara jelas antara berita dan informasi, serta menginginkan lebih banyak informasi.

3)    Mengembangkan sumber informasi alternatif
Pada saat menonton tayangan di televisi, seseorang juga harus mengakses sumber informasi dari media lainnya seperti siaran di radio atau bacaan di media cetak. Sumber informasi alternatif ini akan memperkaya informasi dari sebuah pesan media yang kerap kali tidak menyediakan konteks secara lengkap. Namun, kita juga harus memperhatikan bahwa hal itu perlu dilakukan terhadap sudut pandang yang berbeda-beda karena pemahaman konteks adalah sesuatu yang lebih daripada sekedar mengakses satu perspektif tunggal.

4)    Bersikap skeptis terhadap opini publik
Permasalahan dalam opini publik bukanlah tentang masalah akurasinya, dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, akurasi dapat mencapai level yang tinggi. Namun seringkali orang tidak memiliki opini terhadap sesuatu atau tidak yakin dengan opini mereka. Sementara itu, tingkat literasi media yang tinggi memerlukan kesinambungan antara struktur pengetahuan dan kemampuan diantaranya kemampuan untuk beropini.

5)    Mengakses lebih banyak berita
Orang perlu untuk mengakses berita yang lebih banyak dari organisasi berita yang beragam. Dengan cara itu, orang akan dapat menemukan sisi positif sekaligus sisi negatif dan menemukan liputan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Dengan lebih banyak informasi, orang akan dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dalam menentukan fakta mana yang lebih akurat.

b.    Pengetahuan tentang hiburan (Entertainment)
Pesan hiburan yang ditampilkan dalam media mempunyai elemen yang berbeda dengan pesan yang ada dalam dunia nyata. Pesan hiburan yang ditampilkan dalam media dibuat sangat real seolah-olah seperti dalam dunia nyata. Sesungguhnya dalam pesan hiburan terdapat elemen yang berbeda dengan dunia nyata, terutama yang berhubungan dengan penggambaran karakter, isi pesan yang kontroversial (sex, kekerasan fisik maupun verbal), kesehatan, dan nilai. Hal ini perlu dipahami secara mendalam sebab dengan memahaminya kita dapat mencegah distorsi dunia media dalam mempengaruhi ekspetasi kita terhadap dunia nyata.

c.     Pengetahuan tentang iklan (Advertising)
Pada umumnya ketika kita berhadapan dengan pesan berita dan pesan hiburan, kita lebih aktif dalam menentukan paparan (exposure) dan memproses informasi. Namun pada saat kita berhadapan dengan pesan iklan kita sering kali tidak terlalu menyadari dengan efek keotomatisan pesan iklan. Artinya kita terlalu menyadari seberapa besar paparan iklan yang terjadi. Terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan ketika berhadapan dengan iklan.
Pertama, hal yang sebenarnya dijual oleh iklan. Iklan dirancang untuk menghadirkan klaim produk tertentu. Klaim ini dihadirkan sebagai alasan agar kita membeli produk tertentu, yaitu produk tersebut akan memberikan sesuatu yang bernilai kepada kita. Nilai tersebut dapat bersifat fisik, fungsional, atau karakteristik. Nilai fisik terfokus kepada produk itu sendiri dan kandungan yang dimiliki. Nilai fungsional terfokus kepada bagaimana produk digunakan. Nilai karakteristik memfokuskan perhatian kepada konsekuensi psikologis setelah mengkonsumsi produk.
Kedua, efek yang diharapkan oleh sebuah iklan. Pada awalnya iklan dirancang untuk meyakinkan seseorang agar membeli produk yang diinginkan. Kini, iklan lebih ditujukan untuk menciptakan kesadaran (awareness) masyarakat akan adanya produk tersebut. Iklan dirancang untuk menciptakan emosi dalam diri kita dan menghubungkan emosi tersebut dengan produk yang diiklankan. Tujuan pemasangan iklan yang paling lazim adalah penguatan kembali (reinforcement) yang ditujukan kepada mereka yang memang sudah memakai produk yang diiklankan. Dengan demikian, iklan digunakan untuk mengingatkan konsumen bahwa produk tersebut masih ada dan memiliki kualitas yang baik. Sementara beberapa iklan dirancang untuk membuat konsumen “kebal” terhadap klaim yang dikemukakan oleh produk pesaing.
Ketiga, kebutuhan terhadap iklan. Seperti dikatakan oleh Potter, semakin kita sadar dengan kebutuhan kita, maka semakin kita dapat menggunakan iklan untuk mengontrol hidup kita. Namun jika kita tidak memiliki kesadaran terhadap kebutuhan kita, maka derasnya iklan akan menciptakan dan membentuk kebutuhan kita, seringkali tanpa kita ketahui.
#

DAFTAR PUSTAKA
1.    Potter, James W. Ibid. Hal. 23.


0 komentar:

Posting Komentar