17 Mar 2013

Kuliah Komunikasi - Media Literacy #2 (Review)

KULIAH KOMUNIKASI
Studi Literasi Media (Bagian II)
Review by : Nisya Rifiani

1.    Literasi media sebagai sebuah konsep
Padanan kata media literacy dalam Bahasa Indonesia ditransliterasi sebagai “literasi media”. Dalam dunia akademis kerap disebut dengan istilah “keaksaraan bermedia” ; atau dalam masyarakat lebih dikenal dengan istilah populer “melek media”. Meski diartikan secara sederhana, untuk dapat memahami konsep literasi media kita memerlukan definisi yang lebih luas mengenai arti dari literasi media itu sendiri.
Berbicara tentang literasi media berarti berbicara tentang kecerdasan bermedia. Ada demikian banyak definisi literasi media ditemukan dalam literatur. Akan ditemukan beragam pengertian yang dikemukakan antara satu akademisi dengan akademisi lainnya. Namun secara umum literasi media dipahami sebagai: “kemampuan mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan media dalam pelbagai bentuk”. Definisi ini lazim digunakan di Amerika Serikat; dinyatakan pertama kali di Aspen Media Literacy Leadership Institute pada tahun 1992. Sedangkan pada National Leadership Conference definisi literasi media ditetapkan sebagai “kemampuan penduduk mengakses, menganalis, dan memproduksi infomasi untuk tujuan yang spesifik”.
James William Potter mengidentifikasi literasi media sebagai: kumpulan perspektif yang digunakan individu secara aktif untuk mengungkap diri sendiri pada media untuk menafsirkan pemaknaan pesan-pesan yang diterima. Perspektif yang dipakai oleh individu tersebut berasal dari struktur pengetahuan (knowledge structure). Dalam membangun struktur pengetahuan kita membutuhkan keterampilan dan informasi. Struktur pengetahuan membentuk platform tempat kita memandang berbagai fenomena dalam media (1).
Lebih jauh terdapat beberapa pengertian yang lebih spesifik tentang literasi media yang dapat dirujuk untuk memahami konsep ini. Tapio Varis dalam Aproaches to Media Literacy and e-Learning menyatakan bahwa :

Media Literacy is the ability to communicate competently in all media, print and electronic, as well as to access, analyze and evaluate the powerful images, words and sounds that make up our contemprorary mass media culture. These skills of media literacy are essential for our future as individuals and as members of a democratic society”. (2)

Sementara itu Hobbs dan Frost dalam The Acquisition of Media Literacy Skills among Australian Adolescents dalam Journal of Broadcasting and Electronic Media, menyatakan:

Media Literacy is the ability to access, analyze, evaluate and communicate messages in wide variety of forms”.

Selanjutnya, Allan Rubin menawarkan tiga definisi literasi media. Pertama, dari National Leadership Conference on Media Literacy  yaitu kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan pesan. Kedua, dari ahli media Paul Messaris, yaitu pengetahuan tentang bagaimana fungsi media dalam masyarakat. Ketiga, dari peneliti komunikasi massa, Justin Lewis dan Shut Jally, yaitu pemahaman akan batasan-batasan budaya, ekonomi, politik, dan teknologi terhadap kreasi, produksi, dan transmisi pesan.
Rubin juga menambahkan bahwa definisi-definisi tersebut menekankan pada pengetahuan spesifik, kesadaran, dan rasionalitas, yaitu proses kognitif terhadap informasi. Fokus utamanya adalah evaluasi kritis terhadap pesan. Literasi media merupakan sebuah pemahaman akan sumber-sumber dan teknologi komunikasi, kode-kode yang digunakan, pesan-pesan yang dihasilkan serta seleksi, interpretasi, dan dampak dari pesan-pesan tersebut (3). Pakar media Art Silverbalt mengidentifikasikan lima elemen penting dalam literasi media yaitu :
a.    Kesadaran akan pengaruh media massa pada individu dan masyarakat. Media telah membentuk cara kita berpikir akan “kita”, satu sama lain dan dunia kita.
b.    Pemahaman terhadap proses komunikasi massa. Literasi media memberikan pemahaman terhadap komunikasi massa yang melibatkan produksi, transmisi, dan konteks interpretasinya. Dengan memahami proses ini kita dapat menentukan ekspektasi kita pada media.
c.     Pengembangan strategi untuk menganalisis dan mendiskusikan pesan media. Untuk menjadi audiens media yang cakap, sebelumnya harus dikembangkan dulu strategi bagi analisis sistematik akan isi media.
d.    Pemahaman akan isi media sebagai teks yang memberikan wawasan bagi budaya kontemporer dan diri kita. Kesadaran terhadap isi media mempunyai andil membentuk perilaku, nilai, sikap, pola pikir, dan mitos yang kemudian membentuk budaya.
e.    Kemampuan untuk menikmati, memahami, dan mengapresiasi isi media.  Presentasi media yang baik dapat memberikan banyak manfaat bagi khalayak seperti rasa senang kepada media, pemahaman dan penghargaan akan isi media.

Beberapa pemikiran memandang literasi media lebih sebagai sebuah pemikiran kritis ketika berhadapan dengan media. Konsep ini kemudian mendorong munculnya suatu konsep baru yang disebut dengan critical media literacy atau literasi media kritis. Aktivitas literasi media kritis lebih kritis mengenai pemilihan media dan pembelajaran tentang proses teknis menggunakan alat media (media tools) dan konstruksi isi media (media content), serta mengkombinasikan kedua poin tersebut dalam kegiatan bermedia. Definisi literasi media dikemukakan oleh Sheperd berikut ini menunjukkan literasi media merupakan cara berpikir kritis ketika berhadapan dengan media :

An informed, critical understanding of the mass media. It involves examining the techniques, technologies and institutions involved in media production; being able to critically analyze media messages; and recognizing the role audiences play in making meaning from those messages.” (4)

Literasi media membutuhkan kemampuan yang spesifik yang kerap dinamakan dengan media literacy skills atau kemampuan literasi media. Center for Media Literacy (CML) mendefinisikan literasi media sebagai suatu kerangka kerja untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan media (5). Kemampuan literasi media mencakup : Pertama, kemampuan mengkritik media. Kedua, kemampuan memproduksi media. Ketiga, kemampuan mengajarkan tentang media. Keempat, kemampuan mengeksplorasi sistem pembuatan pesan media. Kelima, kemampuan mengeskplorasi berbagai posisi. Keenam, kemampuan berfikir kritis (6).

#

DAFTAR PUSTAKA
  1. Adiputra, Wisnu Martha. 2008. Menyoal Komunikasi Memberdayakan Masyarakat. Yogyakarta: Penerbit Fisipol UGM.
  2. Tapio Varis, “Aproaches to Media Literacy and e-Learning“. 2000. Dikutip oleh W.S Mulyana dalam : http://wsmulyana.wordpress.com/2008/12/22/perkembangan-media-massa-dan-media-literasi/  Diakses Selasa, 12 April 2011. Pukul 11.20 WIB.
  3. Baran & Davis. 2003. Mass Communication Theory 3rd Edition. Wadsworth, USA.
  4. Sheperd, 2002 : 1 dalam Susanto, Ifan Endi. 2008. Program Literasi Media untuk Anak-Anak ; Studi Kasus rogram “Kritis! Media untuk Anak oleh Yayasan Pengembangan Media Anak. Skripsi. Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UGM. Tidak dipublikasikan.
  5. Center for Media Literacy. Http://www.medialit.org/
  6. Center for Media Literacy. Http://www.medialit.org/

0 komentar:

Posting Komentar