21 Jan 2013

SERIAL GENG’GOWES − Special Ramadhan



SERIAL/CERPEN
BERBAGI ITU INDAH
Nisya Rifiani

“Gue cuma punya segini…” Igo memulai rapat internal Geng’Gowes, sembari menyodorkan selembar rupiah berwarna biru.

“Gue juga, ini gue ambil dari tabungan gue sendiri…” Bintang meletakkan sejumlah uang. Selembar rupiah berwarna biru, lagi.

“Gue ada lebih, ini gue dapat dari kerja part time. Pakai aja dulu…” Bang Jay menaruh rupiah berwarna biru. Kali ini dua lembar.

“Gimana dengan elo, Lulu?” tanya Igo. Bintang dan Bang Jay memandang Lulu.

“Emm…” Lulu tampak bimbang. “Sebenernya gue ada, tapi mau gue tabung buat beli sepeda.” ucap Lulu.

“Nggak apa-apa. Jumlah segini sebenarnya sudah cukup kok…” ucap Bintang.

“Emm… Tapi, Bismillaahirrohmaanirrohiim…” kata Lulu. Lulu akhirnya merelakan selembar rupiah berwarna biru miliknya.

Alhamdulillah. Terkumpul dua ratus lima puluh ribu rupiah…” kata Igo.

“Ah, udah adzan maghrib. Kita sholat dulu aja.” kata Bintang.

Mereka pun kemudian sholat berjamaah bersama, dipimpin oleh Bang Jay.

#

Sore hari keesokan harinya…
Geng’Gowes sepakat kumpul di rumah Bang Jay. Bintang tiba lebih dulu dari Igo dan Lulu.

“Bintang, gimana masalah kendaraan? Beres?” tanya Bang Jay.

“Sip! Gue pinjam motor dari Galang.” jawab Bintang.

“Oke. Alhamdulillah, motor sepupu gue juga bisa dipinjem. Jadi sore ini kita bisa jalan…” kata Bang Jay. Tak lama kemudian Igo dan Lulu muncul.

“Gimana tugas kalian?” tanya Bintang.

“Beres, kita udah pesan 45 nasi bungkus plus air mineral dalam gelas. Tadi di rumah gue ada kue, jadi sekalian aja gue bawa…” kata Igo.

“Nasi, air, kue, plus sendoknya, udah dipaket jadi satu pake plastik kresek. Jumlah keseluruhan juga udah dibagi jadi dua, supaya memudahkan kita saat distribusi nantinya.” kata Lulu.

“Oke, kita kumpul dulu.” kata Bang Jay. Bintang, Igo, dan Lulu pun mendekat.

“Bismillaahirrohmaannirrohiim. Mari kita mantapkan niat kita. Semoga dengan perbuatan kita ini bisa sedikit meringankan beban bagi orang-orang yang membutuhkan. Amin.” kata Bang Jay.

“Amin...” Bintang, Igo, dan Lulu pun turut memanjatkan doa.

Empat Sekawan itu kemudian membagi kelompok mereka menjadi dua. Bang Jay dengan Bintang, Igo dengan Lulu. Setelah mengambil pesanan di sebuah warung makan sederhana, mereka mulai menelusuri jantung Kota Jogja, membagikan bungkusan nasi kepada orang pinggiran yang membutuhkan. Mereka mencari, jeli menyeleksi mana orang yang benar-benar berhak atas rizki itu – meski hanya sekedar nasi bungkus... Satu per satu mereka bagikan hingga habis tak tersisa...

#

Sepanjang perjalanan pulang, Lulu membenamkan kepalanya di balik punggung Igo. Rupanya ia sedang menangis...

“Lu, untung ya. Nasi bungkus terakhir itu, kita kasih ke bapak tadi.” Igo mengawali pembicaraan.

“Memangnya kenapa?” tanya Lulu.

“Tau nggak, dia lagi ngapain tadi?”

“Ngapain?”

“Tadi itu, dia lagi nyari makanan di tempat pembuangan sampah. Makanya, begitu kita datang dan kasih nasi itu dia langsung pergi dari tempat itu.” jelas Igo.

“Ternyata, masih banyak orang yang kesusahan. Hanya untuk mendapatkan sesuap makanan mereka sampai mengais-ngais di tempat sampah.” kata Lulu.

“Iya. Makanya, kita nggak boleh menyia-nyiakan rizki yang sudah dikasih sama Tuhan.”

“Hu’um.” Jawab lulu singkat sembari sesengukan.

“Nah, mulai sekarang kurangi makan cokelat yang berlebihan ya.” kata Igo.

“Iya.” Jawab Lulu.

Kedua motor itu memasuki kawasan parkir salah satu masjid ternama di Kota Jogja. Meski sedikit telat, mereka tetap menjalankan ibadah sholat maghrib – sekaligus bersyukur atas apa yang telah mereka peroleh selama hidup mereka.

Begitu cara mereka bersedekah… Pengalaman itu juga tak kan pernah mereka lupakan...

#

A Short Story :: Cerpen ini terinspirasi dari pengalaman bersama Achmad Choirul Sidiq...
by :: Nisya Rifiani / Juli 2012

Seperti itu cara mereka bersedekah, seperti ini cara kami berbagi...

Semoga Menginspirasi...

0 komentar:

Posting Komentar