14 Jun 2012

Review Buku - TEORI PEMBANGUNAN DUNIA KETIGA

KULIAH KOMUNIKASI

MATA KULIAH SOSIOLOGI PEMBANGUNAN
RESUME
TEORI PEMBANGUNAN DUNIA KETIGA
ARIEF BUDIMAN
Review by : Nisya Rifiani

BAB II
TEORI MODERNISASI ; PEMBANGUNAN SEBAGAI MASALAH INTERNAL

Disusun sebagai tugas rutin mata kuliah sosiologi pembangunan 
Semester ganjil  tahun akademik 2009/2010


Jurusan Sosiologi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Gadjah Mada

POINT OF VIEW
TEORI MODERNISASI
Teori Modernisasi menjelaskan bahwa kemiskinan yang terjadi di negara dunia ketiga disebabkan oleh faktor-faktor internal atau faktor-faktor yang terdapat di dalam negeri asal negara yang bersangkutan. Kelompok teori yang tergolong ke dalam kelompok Teori Modernisasi :

1.    Teori Harrod-Domar ; Tabungan dan Investasi.
Roy Harrod dan Evsei Domar : pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh tingginya tabungan dan investasi. Hal tersebut bersumber dari asumsi bahwa : masalah pembangunan pada dasarnya merupakan masalah menambahkan investasi modal. Persoalan keterbelakangan kemudian dirumuskan sebagai masalah kekurangan, yaitu kekurangan modal. Teori Harrod-Domar tidak mempersoalkan masalah manusia dan menganggapnya sudah tersedia.

2.    Max Weber ; Etika Protestan
Teori Weber mempersoalkan masalah manusia yang dibentuk oleh nilai-nilai budaya di sekitarnya, khususnya nilai-nilai agama. Weber mengemukakan apa yang kemudian dinamakan Etika Protestan. Etika Protestan lahir di Eropa melalui agama protestan yang dikembangkan oleh Calvin. Etika Protestan yang dikembangkan Weber pada intinya adalah cara bekerja keras dengan sungguh-sungguh, lepas dari imbalan material untuk mencapai surga. Etika Protestan adalah sebuah nilai tentang kerja keras tanpa pamrih untuk mencapai sukses. Etika Protestan ini adalah faktor utama bagi munculnya kapitalisme di Eropa yang kemudian menyebar dan berkembang di Amerika Serikat.

3.    David McClelland ; Dorongan Berprestasi
Konsep McClelland : the need for achievement (n-ach), kebutuhan atau dorongan untuk berprestasi. Asumsi yang dipakai adalah orang yang mempunyai n-ach yang tinggi, memiliki kebutuhan untuk berprestasi, mengalami kepuasan bukan karena mendapatkan imbalan dari hasil kerjanya, tetapi karena hasil kerjanya dianggapnya sangat baik. Imbalan material menjadi faktor sekunder. Selanjutnya konsep ini berkembang dalam level kelompok (masyarakat), yang jika mempunyai orang n-ach yang tinggi maka akan menghasilkan pertumbukan ekonomi yang tinggi. Asumsi McClelland didukung oleh penelitian dan latihan manajemen yang dilakukan olehnya.

4.       W.W. Rostow ; Lima Tahap Pembangunan
Rostow membagi lima tahap pembangunan yaitu :
-  Masyarakat Tradisional
Masyarakat dalam tahap ini belum memahami ilmu pengetahuan secara luas dan masih mempercayai kekuatan-kekuatan mistis di luar kemampuan manusia. Manusia demikian tunduk dengan alam dan belum bisa menguasai alam, akibatnya produksi cenderung terbatas, mesyarakat yang cenderung statis, tidak ada investasi dan pola & tingkat kehidupan antar generasi hampir sama.
-  Pra-kondisi untuk lepas landas
Masyarakat tradisional bukan tidak bergerak, hanya sangat lambat. Pergerakan masyarakat tradisional ini kemudian akan mencapai pada posisi prakondisi untuk lepas landas. Keadaan ini (biasanya) terjadi karena adanya campur tangan dari pihak luar. Pada tahap ini terjadi usaha untuk meningkatkan tabungan, investasi pada sektor-sektor produktif yang menguntungkan, dan meningkatkan produksi di segala bidang.
-  Masa lepas landas
Periode ini ditandai dengan tersingkirnya hambatan-hambatan yang menghalangi proses pertumbuhan ekonomi. Dalam kondisi ini tabungan dan investasi menjadi meningkat dan stabil. Industri-industri mulai berkembang dan peningkatan dalam produksi pertanian.
-  Bergerak ke kedewasaan
Proses kemajuan setelah lepas landas ini ditandai dengan investasi yang terus-menerus, meskipun kadang terjadi pasang surut. Industri berkembang sangat pesat dan produksi meningkat. Ekspor barang-barang mengimbangi impor. Perkembangan industri tidak hanya meliputi teknik-teknik produksi, tetapi juga dalam aneka barang yang diproduksi, dan buka hanya terbatas pada barang yang dikonsumsi tetapi juga barang modal.
-  Zaman konsumsi massal yang tinggi
Konsumsi massal yang tinggi – konsumsi tidak lagi terbatas pada kebutuhan pokok untuk hidup tetapi meningkat ke kebutuhan yang lebih tinggi. Pada periode ini investasi mencapai tahap kedewasaan.  Pembangunan merupakan proses yang berkesinambungan yang dapat menopang kemajuan secara terus menerus.

Tahapan pembangunan Rostow diatas didasarkan pada diktonomi masyarakat tradisional dan masyarakat modern.

5.       Bert F. Hoselitz ; Faktor-Faktor Non-Ekonomi
Hoselitz membahas faktor-faktor ekonomi yang ditinggalkan oleh  Rostow, yaitu faktor kondisi lingkungan – yang dianggap penting bagi proses pembangunan. Hoselitz berbicara mengenai perubahan-perubahan pengaturan kelembangaan yang terjadi dalam bidang hukum, pendidikan, keluarga dan motivasi.
Hoselitz menekankan ada hal lain yang juga sangat penting dalam proses pembangunan, yakni keterampilan kerja tertentu dan pengalaman wiraswasta – selain kekurangan modal (Teori Harrod-Domar). Bagi Hoselitz pembangunan membutuhkan pemasok dari dua unsur yaitu :
-  Pemasokan modal besar dan perbankan
-  Pemasokan tenaga ahli dan terampil

6.       Alex Inkeles & David H. Smith ; Manusia Modern
Alex Inkeles & David H. Smith pada dasarnya berbicara mengenai pentingnya faktor manusia sebagai komponen penting penopang pembangunan. Untuk mengubah manusia tradisional menjadi manusia yang modern, Inkeles dan Smith mempunyai keyakinan bahwa pendidikan adalah cara yang paling efektif untuk mencapai hal tersebut.
Inkeles dan Smith menekankan pada faktor pengalaman kerja (terutama kerja di pabrik) untuk dapat mengubah manusia.  Asumsi Inkeles dan Smith ini diperkuat dengan penelitian yang mereka lakukan.
Temuan Inkeles dan Smith : seorang manusia tradisional yang diterjunkan ke dalam lembaga kerja yang modern bukan saja dapat melakukan adaptasi yang cepat, tetapi dia juga bisa menyerap nilai-nilai kerja ini dalam kepribadiannya, dan mengekspresikannya kembali ke dalam sikap, nilai dan tingkah lakunya.

CONCLUSION – Point of View
Teori-teori tersebut merupakan teori modernisasi yang dianggap mewakili beberapa pemikiran aliran mengenai teori modernisasi. Aliran-aliran tersebut antara lain :
1.       Teori yang menekankan bahwa : pembangunan hanya merupakan masalah penyediaan modal untuk investasi.
-  Dikembangkan oleh para ekonom.
-  Diwakili oleh Teori Harrod-Domar.
2.       Teori yang menekankan pada : aspek-aspek psikologi individu (pendidikan individu)
-  Diwakili oleh Teori McClelland.
3.       Teori yang menekankan pada : nilai-nilai budaya.
-  Diwakili oleh Teori Weber → peran agama dalam pembentukan kapitalisme.
4.       Teori yang menekankan pada : adanya lembaga-lembaga sosial dan politik (lembaga-lembaga konkret).
-  Diwakili oleh Teori Rostow → yang menekankan pada proses ‘lepas landas)
-  Dan Teori Hoselitz → yang membahas pada pra ‘lepas landas’.
5.       Teori yang menekankan pada : lingkungan material (spesifik : lingkungan pekerjaan).
-  Diwakili oleh Inkeles & Smith → memberikan langsung pengalaman kerja.
-  Inkeles & Smith menyatakan bahwa pendidikan adalah cara yang paling efektif untuk membentuk manusia modern.

Ciri Umum Teori Modenisasi : 
1. Didasarkan pada diktonomi antara apa yang dinamakan tradisional dan yang modern. 
2. Didasarkan pada faktor-faktor non-material sebagai penyebab kemiskinan → note : dalam perkembangannya terdapat teori yang menekankan pada faktor material.  
3. Bersifat a-historis. Hukum-hukum yang berlaku sering dianggap berlaku secara universal. 
4. Faktor-faktor yang mendorong atau menghambat pembangunan harus dicari di dalam negara-negara yang bersangkutan, bukan di luarnya.

#

0 komentar:

Posting Komentar